Nama : Ahmad
Rizky Roenanda
NIM :
72154048
Prodi/Sem : Sistem Informasi
Semester 3
Perguruan Tinggi : Universitas Negri Sumatera Utara
Dosen Pengampu : Dr. Ja’far.MA
Matakuliah : Akhlak Tasawuf
Tema :
kefakiran, sabar, tawkal
Buku 1 : Ja’far,
Gerbang Tasawuf(Medan:Perdana Publishing, 2016)
Kesimpulan
Kefakiran (al-faqr)
Dalam terminologi
Alquran, istilah fakir berasal dari bahasa Arab,faquro,yafquru,faqran yang
artinya miskin. Istilah faqr bermakna kemiskinan. Dalam bahsa Indonesia,
fakir berarti”orang yang sangat berkekurangan, orang yang terlalu miskin, atau
orang yang dengan sengaja membuat dirinya menderita kekurangan untuk mencapai
kesempurnaan batin.” Alquran menyebutkan istilah fakir dalam bebrbagai bentuk
sebanyak 14 kali.Dalam al-Mu’jam al-Mufahrasy, Muhammad Fu’ad Abd al-Baqi
menyebutkan bahwa kata fakir disebut dalam berbagai bentuk, seperti al-faqara
sebanyak 1 kali, al-faqr sebanyak 3 kali, faqiri sebanyak 2 kali, al-fuqara
sebanyak 7 kali, dan faqirah sebanyak 1 kali.
Al-Ghazali menyebutkan
dalil-dalil kewajiban dan keutamaan fakir kitab ihya Ulum al-Din.
Beberapa dalil tentang fakir adalah Q.S.al-Hasyr/59:273. Mengenai makna fakir,
al-Kalabazi berkata “fakir adalah orang tidak boleh mencari mata pencaharian,
kecuali orang itu khawatir tidak mampu melaksanakan tugas keagamaan.” Al-Nur
berkata “fakir adalah orang yang harusbungkam ketika tidak memiliki sesuatu,
bermurah hati dan tidak hanya memikirkan diri sendiri jika memiliki sesuatu”
menurut Nashr al-Din al-Thusi, fakir dalam kajian tasawuf adalah”seseorang
tidak memiliki kecintaan terhadap kekayaan dan hiasan duniawi, dan jika ia memilikinya
maka ia tidak berkeinginan untuk menyimpan dan mengumpulkannya” Menurut Ibn
Qudamah, drajat tertinggi dalam fakir adalah seorang salik benci kepada harta
(zuhud) dan tidak merasa senang dengan harta (rida).
Menurut al-Ghazali,
fakir dapat bermakna tidak memiliki harta. Menurutnya, ada lima tingkatan
fakir, dua diantaranya yang paling tinggi derajatnya, yakni seorang hamba yang
tidak suka diberi harta, merasa tersiksa dengan harta, dan menjaga diri dari
kejahatan dan kesibukan untuk mencari harta dan seorang hamba tidak merasa
senang bila mendapatkan harta.
Sabar (al-shabr)
Kata sabar berasal
dari bahasa Arab, shabara,yashbiru,shabran, maknanya adalah ,emgikat,
bersabar,menahan dari larangan hukum,dan menahan diri dari kesedihan kata ini
disebut di dalam Alquran sebanyak 103 kali. Dalam bahasa Indonesia, sabar
bermakna “tahan menghadapi cobaan (tidak lekas marah,tidak lekas putus asa,
tidak lekas patah hati), dan tabah,tenang,tidak tergesa-gesa,dan tidak terburu
nafsu.”
Al-Qusyairi dan
al-Ghazali menyebutkan dalil-dalil sabar antara lain Q.S al-Sajadah/32:24;
Q.S.al-A’raf:137;Q,S.al-Nahl/16:96,127;Q.S.al-Qashash/27:54;Q.S.al-Zumar/39:10;Q.S.al-Anfal/8:46;Q.S.al-Thur/52:48;dan
Q.S.Shad/38:44. Mengenai makna sabar menurut kaum sufi awal,Dzun al-Nun
al-Mishri, misalnya, permah ,emgatakam bahwa “sabar adalah menjauhi hal-hal yang
bertentangan, bersikap tenang ketika menelan pahitnya cobaan, dan menampakkan
sikap kaya dengan menyembunyikan kefakiran dalam kehidupan.
Ibn Atha berkata:
“Sabar adalah tertimpa cobaan dengan tetap berperilaku baik” sebagian ulama,
kata al-Qusyairi, berkata : “sabar adalah tertimpa cobaan dengan tetap bersikap
baik dalam pergaulan sebagaimana keadaan sehat”
Al-Thusi membagi sabar
menjadi tiga jenis: sabar kaum awam, yakni menjaga jiwa agar tetap kokoh dalam
kesabaran dan tetap konsisten dalam kekuatannya:kesabaran kaum zuhud, yakni
rasa takut dan sikap sabar kepada Allah dalam harapan untuk memperoleh ganjaran
di akhirat; dan kesabaran ahli hikmah, yakni merasakan kebahagiaan walaupun
ditimpa musibah. Al-Ghazali Ibn Qudamah dan Ibn Qayyim al-Jauziyah membagi
sabar menjadi 3: sabar dalam ketaatan kepada Allah, sabar dari godaan untuk
melakukan perbuatan maksiat, dan sabar atas musibah dari Allah Swt.
Tawakal (al-tawakkul)
Berasal dari bahasa
Arab, wakila,yakilu,wakilan yang berati “mempercayakan, memberi,membangun
urusan, bersandar, dan bergantung,” istilah tawakal disebut di dalam Alquran
dalam berbagai bentuk sebanyak 70 kali
Al-Ghazali menyebutkan
dalil-dalil kewajiban dan keutamaan tawakal kitab Ihya Ulum al-Din. Di
antara dalilnya adalah Q.S al-Maidah/5:23;Q.S.Ibrahim/14:12;Q.S.al-Thalaq/65:3;
dan Q.S. Ali Imran/3:159.
Menurut Nashral-Dinal
al-Thusi tawakal adalah “mempercayakan semua urusan kepada Allah, dan keyakinan
Allah memiliki kearifan dan kekuasaan untuk menjalankan segala urusan sesuai
pengaturan-Nya tawakal tidak bermakna bahwa seorang hamba tidak melakukan
apapun dengan alasan menyerahkan semua urusan kepada Allah, tetapi tawakal
bermakna bahwa setiap orang harus mempercayai bahwa segala sesuatu selain Allah
pasti berasal dari Allah, dan segala sesuatu bekerja sesuai hubungan
sebab-akibat.
Menurut Ibn Qudamah,
ada tiga derajat tawakal :
Pertama, Menyerahkan diri hanya kepada Allah Swt, dan
selalu mengharapkan pertolongan-Nya
Kedua, Pasrah dan tidak bersandar kecuali hanya kepada
Allah seperti seorang anak yang hanya bersandar kepada ibunya
Ketiga, Tidak berpisah dengan Allah Swt, dan melihat
diri sendiri seperti orang mati yang posisinya seperti kepasrahan mayit di
tangan orang-orang yang memandikannya.
Akan tetapi, tawakal
tidak menafikan usaha, sebab usaha menjadi sangat penting dalam Islam
Kesimpulan
Kesimpulan dari ini
bahwasanya seorang sufi harus memiliki sifat yang fakir (miskin) kenapa? Karna seorang
sufi tidak memikirkan harta di dunia melainkan seorang sufi lebih fokus tentang
bekalnya di akhirat, dari sifat kefakirannya karna Allah juga tidak lengkap
dengan sifat sabar yang selalu menahan diri dari segala hal yang semuanya itu
dilakukan karena Allah Swt, tidak lengkap seorang sufi tidak memiliki sifat
tawwakal (mempercayakan pada Allah) dalam segala hal.
BUKU 2
IDENTITAS BUKU :
H.Abuddin Nata, akhlak tasawuf dan karakter mulia (jakarta: Rajawali
pers , 2015)
1. Kefakiran
Dalam buku ini di jelaskan fakir biasanya
diartikan sebagai orang yang berhajat, atau orang miskin. Sedangkan dalam
pandangan sufi fakir adalah tidak meminta lebih dari apa yang telah ada pada
diri kita. Tidak meminta rezeki kecuali hanya untuk dapat menjalankan kewajiban-kewajiban.
Tidak meminta walaupun sesungguhnya membutuhkan, apabila diberi maka diterima. Dan
Tidak meminta tetapi tidak menolak.
2. Sabar
Dijelaskam bahwa sabar berarti tabah hati.
,dikalangan para sufi sendiri sabar diartikan sebagai sabar dalam menjalankan perintah allah , dan dalam
menjauhi segala larangan-nya dan dalam menerima segala cobaam-cobaan yang
ditimpakan-nya pada diri. Sikap sabar sangat dianjurkan dalam ajaran al-Qur’an
, di QS. Al-Ahqaf [46]:35 dan QS.Al-Nahl[16]: 127.
Menurut ali bin abi
thalib bahwa sabar itu adalah bagian dari iman sebagaimana kepala yang
kedudukannya lebih tinggi dari jasad. Hal ini menunjukkan bahwa sabar sangat
memegang peranan penting dalam kehidupan manusia.
3. Tawakkal
Secara harfiah
tawakkal berarti menyerahkan diri. Menurut sahal bin Abdullah bahwa awalnya
tawakkal adalah apabila seorang hamba dihadapan Allah seperti bangkai dihadapan
orang yang memandikannya, ia mengikuti semaunya yang memandikan, tidak dapat
bergerak dan bertindak. Hamdun al-Qashshar mengatakan tawakkal adalah berpegang
teguh pada Allah.
Kesimpulan
Dari buku ke 2 sama
dengan penjelasan buku pertama tidak lengkap seorang sufi apabila tidak
memiliki sifat fakir, sabar, tawakal karna dai 3 sifat itu seorang sufi
benar-benar di latih hatinya untuk selalu ingat pada Allah Swt
Perbandingan
Dari buku Bpk Ja’far
dengan buku ke 2 sama menjelaskan bahwa fakir adalah miskin yang dalam artian
minskin karena Allah Swt yang tidak terlalu memiliki hasrat akan harta di
dunia, Sabar yang artinya berserah diri hanya Pada Allah dalam segala hal dan
yang terakhir adalah tawakal yang mana seorang hamba menyerahkan segala hal
hanya kepada Allah Swt
0 Comments