Nama : Ahmad
Rizky Roenanda
NIM :
72154048
Prodi/Sem : Sistem Informasi
Semester 3
Perguruan Tinggi : Universitas Negri Sumatera Utara
Dosen Pengampu : Dr. Ja’far.MA
Matakuliah : Akhlak Tasawuf
Tema : Biografi
Sufi Yusuf AL-Makasari
Buku : Akhlak
Tasawuf Drs H. Ahmad Bangun Nasution, M.A dan Dra. Hj. Rayani Hanum Siregar,
H.M.
Riwayat Hidup
Syaikh Yusuf AL-MAKASARI
Syaik Yusuf
Al-Makasari adalah seorang tokoh sufi agung yang berasal dari sulawesi. Ia
dilahirkan pada tanggal 8 syawal 1036 H atau bersamaan dengan 3 Juli 1629 M
yang berarti tidak berapa lama setelah kedatangan tiga orang penyebar islam ke
Sulawesi [yaitu Datuk RI Bandang dan kawan-kawannya dari Minangkabau.[1]
Syaikh Yusuf pernah
melakukan perjalanan ke Yaman. Di Yaman ia menerima tarekat dari syaikhnya yang
terkenal. Yaitu Syaikh Abi Abdullah Muhammad Baqi Billah. Pengetahuan tarekat
yang dipelajarinya cukup banyak, bahkan mungkin sukar mencari ulama yang
mempelajari demikian banyak tarekat serta mengamalkannya seperti dirinya, baik
pada masanya maupun masa kini.
Secara ringkas,
tarekat-tarekat yang telah dipeliharanya dicantumkan di bawah ini:
1.
Tarekat Qadiriyah diterima dari syaikh Nuruddin ar-Raniri di Aceh,
2.
Tarekat Naqsabandiyah diterima dari Syaikh Abi Abdillah Abdul Baqi
Billah,
3.
Tarekat As-Saadah Al-Baalawiyah diterimanya dari Sayyid Ali di Zubeid/
Yaman
4.
Tarekat Khalwatiyah diterimanya dari Abdul Barakat Ayub bin Ahmad bin
Ayub Al-Khalwati Al-Quraisyi di Damsyiq. Syaikh ini adalah imam di Masjid
Muhyidin Ibn Arabi.
Ajaran Tasawuf
Syaikh Yusuf AL-MAKASARI
·
Syariah dan Hakikat
Berbeda
dengan kecenderungan sufinisme pada masa-masa awal yang mengelakkan kehidupan
duniawi, Syaikh Yusuf mengungkapkan paradigma sufistiknya bertolak dari asumsi
dasar bahwa ajaran Islam meliputi dua aspek, yaitu aspek lahir [syariat] dan
aspek batin [hakikat]. Syariatdan hakikat harus dipandang dan diamalkan sebagai
suatu kesatuan.
·
Transedensi Tuhan
Syaikh
Yusuf mengembangkan istilah al-ihathah [peliputan] dan al-ma’iyyah [kesetaraan].
Kedua istilah itu menjelaskan bahwa Tuhan turun [tanazul], sementara manusia
naik [taraqi], suatu proses spiritual yang membawa keduanya semakin dekat.
·
Insan Kamil dan Penyucian Jiwa
Gejolak
hawa nafsu harus dikendalikan melalui tertib hidup dan disiplin diri atas dasar
orientasi ketuhanan yang senantiasa melindungi manusia. Berkenaan dengan
cara-cara menuju Tuhan, ia membagi dalam tiga tingkatan:
o
Pertama, tingkatan akhyar
[orang-orang terbaik], yaitu dengan memperbanyak shalat, puasa, membaca
Al-Qur’an, menunaikan ibadah haji, dan berjihad di jalan Allah.
o
Kedua, cara mujahadat
asy-syaqa [orang-orang yang berjuang melawan kesulitan], yaitu latihan
batin yang keras untuk melepaskan perilaku buruk dan menyucikan pikiran dan
batin dengan lebih memperbanyak amalan batin dan melipatgandakan amalan-amalan
lahir.
o
Ketiga, cara ahl
adz-dzikr, yakni jalan bagi orang yang telah kasyaf untuk
berhubungan dengan Tuhan, yaitu orang-orang yang mencintai Tuhan, baik lahir
maupun batin.[2]
1. Kelahirannya
Menurut Lontara
warisan kerajaan kembar Gowa dan Tallo, masa kelahiran Syekh Yusuf adalah pada
3 Juli 1628 M, bertepatan dengan 8 Syawal 1036 H. Riwayat atas penetapan
tanggal tersebut telah menjadi riwayat tradisi lisan masyarakat di Sulawesi
Selatan sehingga semua kajian yang berkenaan dengan masalah itu sudah menjadi
kesepakatan.[3] Ini berarti masa lahir beliau setelah dua puluh tahun
pengislaman kerajaan kembar Gowa dan Tallo oleh seorang ulama dari Minangkabau,
Sumatera Barat, yaitu Abdul Makmur Khatib Tunggal yang digelari dengan Datuk ri
Bandang.[4]
Sebagai manusia biasa,
ia dilahirkan ke persada bumi ini melalui seorang ayah dan seorang ibu. Dalam
“Lontara Riwayat Tuanta Salamaka ri Gowa, dinyatakan dengan jelas bahwa ayahnya
bernama Gallarang Moncongloe, saudara seibu dengan Raja Gowa Sultan Alauddin
Imanga‘rang’ Daeng Marabbia, Raja Gowa yang paling awal masuk Islam dan
menetapkannya sebagai agama resmi kerajaan pada tahun 1603 M. Sedang ibunya
bernama Aminah binti Dampang Ko’mara, seorang keturunan bangsawan dari Kerajaan
Tallo, kerajaan kembar dengan Kerajaan Gowa.
Oleh karena nama
Abdullah sebagai ayah Syekh Yusuf tercatat dalam risalahnya yang berjudul
Hâsyiyat fî Kitâb al-Anbâ’ fî I‘râb Lâ Ilâha Illallâh, Hamka menetapkan ayahnya
yaitu Abdullah.[5] Namun, anak cucunya di Sulawesi Selatan menamakannya
Abdullah Khaidir sebagai bapak Syekh Yusuf. Tetapi nama yang terakhir ini
menimbulkan kontroversi di mata masyarakat umum, karena ada yang menyangka
bahwa ayah Syekh Yusuf adalah Nabi Khaidir, tetapi informasi yang kuat adalah
sebagaimana yang tertuang dalam silsilah keturunannya yang diwarisi
turun-temurun para Raja Bugis di Sulawesi Selatan, yang dalam lontara itu
dijelaskan bahwa ayahnya adalah Gallareng Mongcongloe, yang telah diberi nama
Islam yaitu Abdullah Khaidir.[6] Ia adalah saudara seibu dengan Raja Gowa,
Sultan Alauddin. Menurut tradisi raja-raja di tanah Bugis, tetapi karena sifat
tawadhu dan perhatiannya yang sangat besar terhadap Islam yang baru saja
dianutnya, maka ia memilih untuk tidak menjadi raja. Dengan demikian, ia diberi
gelar oleh masyarakat sebagai Gallarang sementara Moncongloe adalah nama
kampong yang dijadikan sebagai tempat tinggalanya.
Syekh Yusuf
al-Makassari telah menjadi kebanggaan Islam pada masa kini. Beliau bukan lagi
sekedar milik orang Bugis di Sulawesi Selatan, atau milik masyarakat Islam di
Afrika Selatan dan Ceylon, tetapi beliau telah tercatat sebagai pejuang
kemanusiaan oleh Nelson Mandella (Presiden Afrika Selatan) pada tahun 1994, dan
sebagai pahlawan Nasional dan pejuang kemerdekaan oleh Soeharto (Presiden RI)
bulan Novenber 1995.[7]
Penghargaan yang
diberikan kepadanya karena perjuangan beliau semasa hidupnya, baik sebagai
seorang pejuang atau mujahid dakwah maupun sebagai ulama atau tokoh cendekiawan
Islam. Beliau selama hidupnya dianggap duri dalam daging oleh penjajah barat di
Nusantara, terutama Belanda di Batavia (Jakarta). Beliau diasingkan ke Ceylon
(Sri Lagka) kemudian diasingkan ke Afrika Selatan dan wafat di Cape Town pada
tahun 1699M.
Pada masa hidupnya
sampai sekarang, Syekh Yusuf al-Makassari dikenal pada empat negeri, yaitu
Kesultanan Banten (Jawa Barat), Tanah Bugis (Sulawesi Selatan), Caylon (Sri
Lagka) dan Cape Town (Afrika Selatan). Beliau adalah peletak dasar kehadiran
komunitas Muslim di Caylon dan Afrika Selatan. Malah beliau dianggap sebagai
bapak pada beberapa kumpulan masyarakat Islam di Afrika Selatan yang berjuang
mewujudkan persatuan dan kesatuan untuk menentang penindasan dan paham adanya
perbedaan kulit dan etnis.[8]
2. Pendidikannya
Sejak agama Islam
menjadi pengangan masyarakat di tanah Bugis, sistem pendidikan awal kepada
anak-anak mereka adalah menyampaikan ayat-ayat al-Quran al-Karim melalui cara
tradisional dalam pengajaran baca tulis al-Quran. Maka Syekh Yusuf al-Makassaripun
tidak lepas dengan sistem itu. Sejak kecil beliau mulai diajarkan hidup secara
Islam. Beliau mendapatkan pendidikan mengenai bacaan al-Quran melalui seorang
guru mengaji yang bernama Daeng ri Tasammang.[9]
Setelah fasih membaca
al-Quran, beliau dibawa oleh orang tuanya ke pondok Pesantren Bontoala untuk
menuntut ilmu-ilmu Islam dan ilmu alat, seperti Nahw, sarf, Balaghah, dan
Mantiq. Pondok atau pusat pendidikan Bontoala yang didirikan pada tahun 1634,
pada masa itu dipimpin oleh seorang ulama yang berasal dari Yaman yang bernama
Syed Ba’Alawy bin Abdullah,[10] yang dikenal sebagai al-Allamah Tahir.
Setelah beliau
menamatkan pelajarannya di pondok pesantren Bontoala, gurunya Syed Ba’ Alawy
menyarankan kepadanya agar terus melanjutkan pengajian di pondok Cikoang. Sebab
pada masa itu pondok pesantren ini cukup maju dan terkenal dan kedalam ilmu
yang dimiliki oleh gurunya, yaitu Syekh Jalaluddin al-Aidit,[11] Seorang ulama
dari Aceh yang mengembara ke tanah Bugis. Ada beberapa tahun lamanya Syekh Yusuf
belajar di pondok Cikoang di bawah bimbingan dan asuhan Syekh Jalaluddin.
Karena kecemerlangan dan kecerdesan otaknya dalam mengikuti pengajian, akhirnya beliau disarankan oleh
gurunya untuk meneruskan pelajarannya di Jazirah Arabia.
Pada tanggal 22 September
1644M, beliau berangkat dengan menumpang kapal Melayu, Malaka dengan tujuan
menuntut ilmu-ilmu Islam di Jazirah Arabiah terutama di Mekah dan Madinah
sebagai pusat pendidikan Islam pada masa itu. Oleh karena jalan pelayaran niaga
pada waktu itu mesti melalui laut Jawa dan transit di Banten (Jawa Barat), maka
beliaupun ikut singgah di pusat bandara kesultanan Banten. Dalam persinggahan
inilah ia berkenalan dengan ulama dan tokoh agama serta orang-orang besar di
Banten, termasuk Abdul Fattah (putra mahkota), anak Sultan Abu al-Mafakhir
Abdul Kadir (1598-1650), Sultan kerajaan Banten pada masa itu.[12]
Setelah beberapa lama
berada di Banten, kemudian beliau meneruskan perjalanannya ke Aceh Darussalam
sebelum melanjutkan perjalanannya ke Jazirah Arabia. Di Aceh beliau berkenalan
dengan seorang tokoh ulama dan pemimpin serta khalifah “Tariqah al-Qadiriyyah”
di Aceh, yaitu Syekh Muhammad Jilani bin Hasan bin Muhammad Hamid
al-Raniriy.[13]
Syekh Yusuf
al-Makassari menghabiskan waktunya
selama transit di Banten dan di Aceh lebih kurang lima tahun. Sehingga
diperkirakan beliau berangkat ke Jazirah Arabiah pada pertengahan tahun 1649M.
Dan selama beliau berada di Banten dan di Aceh kegiatan beliau yang lebih
dominan adalah berkomunikasi dengan ulama dan pemimpin masyarakat bertukar
pengalaman dan memantapkan wawasan ilmu yang telah dimilikinya.[14]
Perjalanan beliau
selanjutnya adalah menuju Yaman. Kemungkinan kecendrungannya untuk singgah
belajar di Yaman adalah atas saran gurunya, Syekh Muhammad Jilani di Aceh hal
mana ia juga pernah belajar dan menerima ijazah Tarekat di negeri Yaman.[15]
Setelah beliau selamat tiba di Bandara Hadramaut (Yaman) beliau berguru pada
Syekh Abu Abdillah Muhammad Abdul Baqi (w.1664), seorang ulama yang terkenal di
Yaman pada masa itu dan juga Khalifah Tarekat al-Naqshabandiyyah.[16]
Setelah beliau
menerima berbagai ilmu Islam di bawah asuhan Syekh Muhammad Abdul Baqi, beliau
meneruskan perjalanannya ke Bandara al-Zubaid dan berguru pada Syed Ali
al-Zubaidiy (w.1084). Gurunya yang kedua ini adalah seorang muhaddits dan tokoh
sufi, dan beliau lebih dikenal sebagai ulama Ahl al-Sunnah
wa al-Jamâ’ah di negeri Yaman pada zamannya. Sudah tentu Syekh Yusuf di
sini di samping belajar, juga menerima
bimbingan tasawuf melalui al-Zubaidiy.[17] Dan sekaligus menerima ijazah dan
silsilah khilafah tarekat keluarga ulama al-Sadah al-Ba’alawiyyah, satu tarekat
yang cukup banyak penggemarnya ketika itu, terutama di negeri Yaman dan
sekitarnya.
Setelah beberapa lama
mengaji di Yaman, terutama kepada kedua gurunya yang tersebut di atas, kemudian
beliau meneruskan perjalanannya menuju kota Suci Mekah untuk menunaikan rukun
Islam yang kelima, yaitu ibadah haji. Selama di Mekah tidak ada rujukan yang
menyatakan bahwa beliau mengaji selepas menunaikan ibadah haji. Malah
seterusnya beliau menuju Madinah untuk menziarahi makam Rasulullah SAW.
Sekaligus meneruskan pengajiannya di sana.[18]
Di Madinah, beliau
berguru pada Syekh Ahmad Qusysyiy (w.1661), Mullah Ibrahim al-Kawraniy (w.1690)
dan Hassan al-Ajamiy (w.1701). Tiga ulama inilah yang amat masyhur ketika itu
di Madinah dan menjadi tumpuan para penuntut untuk berguru kepada mereka.
Terutama para penuntut yang berasal dari kepulauan Nusantara.[19]
Selepas beliau
mengikuti pengajian di Madinah dan mendapatkan penghargaan dari guru-gurunya
yang yang disebutkan di atas, beliau meneruskan pengembaraannya ke negeri Syam
(Damshiq) dengan tujuan yang sama yaitu untuk memperdalam lagi ilmu
pengetahuannya serta memperluas pengalamannya. Di Damshiq beliau berguru di
bawah bimbingan dan asuhan seorang tokoh dakwah dan ulama Sufi serta pakar
hadits yang amat masyhur di zamannya, yaitu Syekh Abu al-Barakat Ayyub bin
Ahmad al-Khalwatiy al-Qurashiy.
Untuk melengkapi
pengalamannya, beliau melanjutkan perjalanan ke Istambul (Turki).[20] Selepas
beliau menimba banyak pengalaman di Istambul, beliau cenderung kembali ke Mekah dan tinggal beberapa lama di
sana. Di samping tujuan beribadah juga untuk mengkaji ulang ilmu pengetahuan
yang telah diperolehnya selama dalam pengajian. Pada masa inilah beliau gunakan
kesempatan mengajar kepada pelajar-pelajar yang berasal dari Nusantara dan
memberi pengajian umum di masjid al-Haram pada musim haji kepada jamaah haji,
terutama mereka yang berasal dari tanah Bugis (Sulawesi Selatan).
Di antara murid-murid
beliau yang mendapat kepercayaan mengajarkan ilmu-ilmu yang diterimanya di
Mekah ialah Abu al-Fath Abdul Basir al-Darir (Tuang Rappang), Abdul Hamid
Karaeng Karunrung dan Abdul Kadir Majeneng. Mereka adalah berasal dari Sulawesi
Selatan, dan mereka inilah yang menghidup suburkan tarekat Khalwatiyyah Syekh
Yusuf di tanah Bugis.[21]
Konsep-Konsep Tasawuf
Syekh Yusuf al-Makassari
1. Makna Tasawuf dan Hubungannya dengan Akidah.
Syekh Yusuf
al-Makassari dalam kajiannya tidak membedakan antara perkataan tasawuf dan
suluk. Beliau menyatakan bahwa istilah tasawuf merujuk kepada kaedah pengalaman
syariah semata-mata. Suluk pada hakikatnya adalah merupakan jalan untuk
mendekatkan diri kepada Allah SWT. melalui pengalaman syariah Islam, yaitu
ajaran yang telah dibawa oleh Rasulullah SAW. Walau bagaimanapun istilah
tasawuf biasa juga digunakan merujuk kepada hasil dari pada amal ibadah
seseorang hamba.[22] Pandangan ini sesuai dengan makna tasawuf yang dikemukakan
oleh al-Sya’rani dalam al-Tabaqat al-Kubra yang berbunyi sebagai berikut:
والتصوف إ نما
هو زبدة عمل العبد بأ حكام الشر يعة [23]
Tasawuf adalah hasil
amalan hamba terhadap hukum-hukum syari’ah.
Definisi tasawuf yang
digunakan oleh Syekh Yusuf, di antaranya sebagai berikut:
الجد فى السلوك
إ لى ملك الملوك . [24]
“ Bersungguh-sungguh dalam mendekatkan diri
kepada Allah Malik al-Muluk”. Di samping itu, definisi lain yang sering juga
diungkapkan oleh beliau dalam tulisannya, ialah:
التصوف هو تجر
بد القصد إ لى الله تعالى و آ خره هو التخلق با خلا قه سبحا نه وتعال
[25] Tasawuf ialah
pemurnian qadas (niat) semata-mata kapada Allah, dan natijahnya ialah
mengamalkan akhlak dengan akhlak Allah SWT. Juga ditemukan definisi lain lagi, seperti berikut:
أ ول التصوف علم
و أوسطه عمل و آخره مو هبة.[26]
“Awal tasawuf adalah ilmu, pertengahannya
amalan, dan akhirnya ialah pemberian”.
Dari definisi-definisi
yang disebutkan di atas, dapat dipahami bahwa tasawuf bagi Syekh Yusuf
al-Makassari adalah merupakan amalan yang sungguh-sungguh dalam menjalani
al-suluk, yaitu usaha mendekatkan diri kepada Allah semata-mata mengharapkan
rida-Nya. Dengan demikian, seorang hamba Allah dapat mencapai tarap yang mulia
dengan memiliki sifat terpuji yang diridahi oleh Allah SWT melalui suluk atau
tasawuf.
Dalam upaya menjalankan
pengajaran dan dakwah Islam melalui tasawuf, Syekh Yusuf selalu mengaitkan
tasawufnya dengan aqidah Islamiah. Pesan ajaran beliau dalam berbagai
tulisannya, terutama dalam al-Nafhah al-Saylaniyyah, Zubdat al-Asrar dan Habi
al-Warid, selalu dikaitkan perlunya seorang hamba yang memulai suluknya dengan
mengesahkan aqidahnya. Maksudnya yang paling utama diperlukan dalam menjalani
amalan tasawuf (suluk) adalah asas aqidah yang sahih. Jika aqidah itu benar dan
kuat, maka amalan tasawuf akan berjalan sesuai dengan ajaran Islam yang benar.
Akan tetapi jika aqidah rapuh dan tidak
benar, jelas akan merusak amalan selanjutnya, karena asas aqidah yang tidak
benar menjadikan seorang salik bisa terperangkap dalam ajaran sesat dengan
tidak disadari.
Akidah yang benar,
menurut pandangan Syekh Yusuf adalah akidah yang berdasarkan kepada ittiba’
al-Rasûl. Artinya apa yang patut diyakini oleh hamba terhadap Allah adalah
sebagaimana yang telah termaktub dalam al-Quran dan al-Sunnah. Keimanan kepada
Allah, malaikat-Nya, kitab suci-Nya, rasul-rasul-Nya, hari qiyamat dan qada dan
qadar-Nya, mestilah didasarkan kepada kedua rujukan dasar tersebut. Selain
al-Quran dan al-Sunnah, tiada jalan untuk menjadikannya sebagai landasan aqidah
yang benar.[27]
Dalam risalah
al-Futuhat al-Ilahiyyah, Syekh Yusuf memperincikan rukun tasawuf kepada sepuluh
perkara, yaitu:
Pertama : tahrid
al-Tauhid, yang bermaksud memurnikan ketauhidan kepada Allah, dengan memahami
makna keesaan Allah mengikuti kandunagn surat al-Ikhlas. Di samping itu, dalam
meyakini keesaan Allah, mesti dijauhi dari sifat tasybîh dan tajsîm.
Kedua : Faham
al-Sima’i, yang bermaksud memahami tata cara menyimak petunjuk dan bimbingan
Syekh mursyid dalam menjalani pendekatan diri kapada Allah yang menuju pada tuntutan Islam yang benar.
Ketiga : Husn
al-‘Ishra, yang bermaksud memperbaiki hubungan silaturrahim dalam pergaulan
(muasarah).
Keempat : Ithar
al-Ithar, yang bermaksud mendahulukan kepentingan orang lain daripada
kepentingan diri sendiri demi mewujudkan persaudaraan yang kukuh.
Kelima : Tark
al-Ikhtiyar, yaitu bermaksud berserah diri kepada Allah tanpa i’timad kepada
ikhtiar sendiri.
Keenam : Sur’at
al-Wujd, yang bermaksud memahami secara pantas suara hati nurani (wujudan) yang
seiring kehendak al-Haq (Allah).
Ketujuh : al-Kahf ‘an al-Khawâtir, yang bermaksud mampu
membedakan yang benar dan yang salah.
Kedelapan : Kathrat
al-Safar, yang bermaksud melakukan perjalanan untuk mengambil i’tibar dan
melatih ketahanan jiwa.
Kesembilan : Tark
al-Iktisab, yang bermaksud tidak mengandalkan usahanya sendiri, akan tetapi ia
lebih bertawakal kepada Allah Yang Maha Kuasa setelah ia berusaha.
Kesepuluh : Tahrîm
al-Iddihâr, yang bermaksud tidak mengandalkan pada amal yang telah dilakukannya
melainkan tumpuan harapannya hanyalah kepada Allah.[28]
2. Konsep Tauhid dan Wahdat al-Wujud
Adapun konsep Syekh
Yusuf tentang Tauhid al-Ilah, telah dirumuskan dalam risalah al-Nafhah, yaitu:
إ نه تعالى هو
المو صوف بأ ية : ليس كمثله شى ء وسورة الأ خلاص.[29]
“Sesungguhnya Allah Ta’ala disifati dengan ayat
al-Quran surat al-Shura ayat II, yang bermaksud: Tiada suatu apapun yang
menyerupai-Nya.
Dari pernyataan beliau
di atas, jelas bahwa konsep Tauhid beliau tidak lepas dari konsep tauhid
Ahl al- Sunnah Wa al- Jamaah yang
menetapkan zat dan sifat bagi Allah, sebagaimana yang termaktub dalam
al-Quranul Karim. Malah beliau menegaskan bahwa ayat-ayat di atas adalah
merupakan dasar Tauhid yang sebenarnya yang mesti dipegangi dan diyakini.
Beliau menyebutnya sebagai Um al-I’tiqâdât (induk dari keimanan).
Menurut Syekh Yusuf
unsur-unsur ketauhidan yang mesti diyakini sebagai orang yang menjalani suluk
(pendekatan diri) di antaranya adalah:
Pertama : Tauhid
al-Ahad, yaitu meyakini bahwa sesungguhnya Allah adalah wujud qadim (wujud
tidak berpermulaan), qadim binafsih ( berdiri dengan sendirinya ), muqawwim
lighairih (mengadakan selainnya). Sesungguhnya Allah tiada bermula
wujud-Nya dan tiada ujung-Nya, tiada
serupa dengan-Nya, Dia adalah Maha Tunggal, tumpuan pengharapan, tidak beranak,
tidak diperanakkan, dan tidak satupun yang menyerupai-Nya.
Kedua : Tauhid
al-Af’al, ialah meyakini bahwa sesungguhnya Allah, Dialah pencipta segala
sesuatunya, Dialah yang memberi daya dan kekuatan dalam melaksanakan semua
urusan, apa yang dikehendaki oleh manusia tidak akan mungkin terjadi kecuali
atas kemauan Allah jua, semua yang diinginkan oleh Allah pasti terjadi dan yang
tidak dikehendaki-Nya tidak akan mungkin terjadi.
Ketiga : Tauhid
al-ma’iyyah, yaitu meyakini bahwa sesungguhnya Allah senantiasa bersama
hamba-Nya di manapun ia berada.
Keempat : Tauhid
al-Ihatah, yaitu meyakini bahwa sesungguhnya Allah meliputi segala sesuatu.[30]
3. Konsep Ma’rifah dan Haqiqah
Dalam konsep ma’rifah
dan haqiqah, beliau selalu menghubungkannya dengan dua istilah lain, yaitu
syariah dan tariqah yang selalu disinggung secara bersamaan.
Beliau menguraikan
keempat istilah itu dan kedudukannya masing-masing. Syariah ditafsirkan sebagai
teori (nazariyyah), yaitu ilmu tentang tata cara melakukan ibadah kepada Allah
mengikuti syariat Islam yang telah dikaji secara mendalam oleh ulama fiqh (fuqaha).
Sementara tariqah ialah pelaksanaan (tatbiq) amal ibadah (syariah Islamiyyah)
dengan penuh keikhlasan mengikuti bimbingan seorang mursyid yang dianggap
berpengalaman dan memiliki ilmu yang luas tentang syariat Islam. Adapan haqiqah
, Syekh Yusuf menafsrkan sebagai suatu sikap yang sangat dalam (mauqif batiniy)
ketika beribadah dengan bermusyahadah kepada al-Ma’bud (Allah). Sementara
ma’rifah adalah suatu anugerah Ilahi (‘ata Ilahi) yang langsung dirasakan oleh
mereka yang telah menjalani suluk mengikuti petunjuk syariah Islam dengan penuh
keikhlasan dan sikap ihsan.[31]
4. Makna Zikrullah
Menurut Syekh Yusuf
ibadah zikir itu adalah wujud kesempurnaan ittiba (mengikuti) Nabi Muhammad
SAW. Dan amat dianjurkan bagi mereka yang menjalani suluk(pendekatan diri)
kepada Allah.[32]
Menurut Syekh Yusuf,
zikir ada tiga macam, (1) “la Ilaha Illa Allah”, dinamakan zikir orang-orang
awam atau disebut pula zikir lisan atau lidah; “(2) Allah-Allah”, zikir
orang-orang khawas atau disebut zikir qalb atau hati; dan (3) “Huwa-Huwa”, yang
dinamakan zikir khas al-khawas atau zikir sirr atau rahasia.[33]
5. Wujud Tuhan dan Bayang-Bayang.
Menurut Syekh Yusuf,
apa saja yang ada selain Allah sebenarnya tidak ada. Wujud selain Allah
hanyalah sebagai bayangan wujud yang berdiri dan memberi wujud bagi yang lain.
Yang demikian itu adalah wujud al-Haq. Ia menggambarkan bahwa bayang-bayang
seseorang itu bukan terwujud dengan sendirinya melainkan wujud karena adanya
orang itu sendiri. Yang ada itu adalah orangnya saja, sekalipun bayangan itu
terlihat dengan mata.[34]
6. Karamah, Mu’jizat dan Istidraj.
Tentang karamah dan
mu’jizat atau hal-hal yang luar biasa yang terjadi atas diri hamba (orang awam)
dinamakan istidraj bukan keramah; apabila terjadi atas diri seorang saleh yang melaksanakan
syariat berlebih-lebih, maka dinamakanlah karamah sebagai karunia dari Allah
dan bila terjadi atas diri seorang nabi, dinamakan mu’jizat, akan tetapi bila
terjadi sebelum kenabian dinamakan irhas.
7. Al-Insan al-Kamil
Manusia sempurna menurut
Syekh Yusuf adalah manusia yang mengenal Allah dan sampai ke maqam makrifat,
bukanlah manusia biasa atau binatang yang berbentuk manusia. Manusia sempurna
yang ingat pada Allah dalam segala urusannya kapanpun dan di manapun ia berada,
segala kehendaknya untuk Allah dan selalu disisi-Nya. Manusia sempurna itulah
yang dipilih Tuhan untuk menampakkan diri-Nya, lalu diberikan-Nya berbagai
macam sifat-Nya kepada manusia tersebut, seolah-olah hamba tersebut setelah
berakhlak dengan akhlakullah, menjadi Dia dan menjadi Khalifah-Nya di bumi dan
menyerupai-Nya, karena Allah telah menciptakan Adam untuk menjadikannya khalifatullah di bumi. Manusia macam inilah
yang menjadi rahasia-Nya.[35]
Penutup
Syekh Yusuf yang lahir
tanggal 3 juli 1628M di di Gowa Sulawesi Selatan dan wafat 23 mei 1699M di
Sandvliet Cape Town, adalah seorang tokoh besar yang memberikan sumbangsih luar
biasa bagi peradaban Islam di Nusantara. Keluasan ilmu yang beliau peroleh
melalui kontak ilmu pengetahuan dengan pusat-pusat keilmuan Islam telah
membentuk pribadinya sebagai pemikir dan penulis muslim. Pemikirannya yang
brilian adalah sebuah warisan emas bagi
bangsa Indonesia, khususnya umat Islam.
Pemikiran tasawuf yang
ia kembangkan menegaskan peran tasawuf yang besar dalam pembentukan karakter
keberagamaan Islam di nusantara. Beberapa ajarannya, yaitu Makna Tasawuf
Hubungannya dengan Akidah, Konsep Tauhid dan Wahdatul Wujud, Konsep Ma’rifat
dan Haqiqat, Makna Zikrullah, Wujud Tuhan dan Bayang-Bayang, Karamah, Mu’jizat
dan Istidraj, dan Al-Insan al-Kamil, memberikan pengaruh besar dalam
keberagamaan umat Islam.
Sumber
[1] Akhlak Tasawuf Drs
H. Ahmad Bangun Nasution, M.A dan Dra. Hj. Rayani Hanum Siregar, H.M.
[2] Akhlak Tasawuf Drs
H. Ahmad Bangun Nasution, M.A dan Dra. Hj. Rayani Hanum Siregar, H.M.
[3]Abu Hamid, Syekh
Yusuf Seorang Ulama, Sufi Dan Pejuang, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1994,
cet.I, h.79
[4] Taufik Abdullah,
Islam dan Masyarakat: Pantulan Sejarah Indonesia, Jakarta : LP3ES, 1987, h.133.
[5]Hamka, Sejarah Umat
Islam, Jakarta : Bulan Bintang, 1976, cet.II h.294.
[6] Maysur bin
Jamiuddin al-Makassari dalam lontaraknya menegaskan bahwa ayahanda Syekh Yusuf
Makassar ialah Abdullah Khaidir al-Munjalawini orang moncongloe, Ahmad Rahman,
1997, h. 50.
[7] Nabillah Lubis,
Menyingkap Intisari Segala Rahasia, Bandung;Mizan, 1996, h.134.
[8] Taufik Ismail,
Kata Pengantar Dalam Buku Abu Hamid: Syekh Yusuf: Seorang Ulama Sufi dan
Pejuang, Jakarta: Percetakan Obor, 1994.,23.
[9]Djirong Basang,
Riwayat Syekh Yusuf dan Kisah I Makkutaknang dengan Mannun tungi, Jakarta:
Dep. Pendidikan dan Kebudayaan RI,1981, h.114.
[10]Nabillah Lubis,
op.cit,.h.20-21
[11]Data Puang Ramma
(1994:2) bahwa beliau juga anak saudara Syekh Ba’Alawy bin Abdullah. Beliau
berasal dari Hadramaut (Yaman), kemudian berhijrah ke Aceh dan seterusnya ke
Sulawesi Selatan yaitu pada tahun 1645M.
[12]Azyumardi Azra,
Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara abad 17 dan 18: Melacak
akar-akar Pembangunan Pemikiran Islam di Indonesia, Bandung: Penerbit Mizan,
1994, h.212.
[13]Azyumardi Azra,
Jaringan Ulama Timur …., h. 213-214.
[14]Abu Hamid, Syekh Yusuf
Seorang Ulama Sufi dan pejuang, 1994, h. 92.
[15]Hamka, Dari
Perbendaharaan Lama, Kuala Lumpur: Pustaka antara, 1981, h. 58.
[16]Sulaiman Ibrahim
Umar. Al-Turuq al-Sufiyyah Fi Malaysia Wa Atharuha ala al-Dakwah al-Islamiah wa
al-Mujtama’ al-Islam, Tesis Sarjana Universitas al-Azhar, Qairo, 1996, h. 320.
[17]Azyumardi
Azra, Jaringan Ulama Timur …., h. 215.
[18]Hamka, Dari Perbendaharaan Lama., 1981. h.45.
[19]Azyumardi Azra,
Jaringan Ulama Timur ….., h. 216,
[20]Djiron
Basang, Riwayat Syekh Yusuf dan Kisah I
Makkutaknang dengan Mannnun Tungi, 1981, h. 149
[21]Azyumardi Azra,
Jaringan Ulama Timur …., h. 316.
[22]Syekh Yusuf
al-Makassari, al-Futuhat al-Ilahiyyah, Jakarta: Ms.A-101, Perpustakaan
Nasional, t.th, h.3.
[23] ٍAbd. Al-Wahhab bin Ahmad al-Anshari
al-Sha’raniy. Al-Tabaqat al-Kubra al-Musammat bi al–Lawaqih al-Anwar fi Thabaqat al-Akhyar, Kairo:
Maktabah Mustafa al-Babi al-Halabi, tg.th, h. 1-4.
[24] Syekh Yusuf
al-Makassari, al-Futuhat al-Ilahiyyah, h. 6.
[25] Syekh Yusuf
al-Makassari, al-Futuhat al-Ialahiyyah, h. 7.
[26] Syekh Yusuf
al-Makassari, Tafh al-Rahman bi Syarh Risalat al-Wali Raslan. MS.A-108,
Jakarta: Perpustakaan Nasional, t.th, h. 5.
[27]Syekh Yusuf
Al-Makassari, al-Mafhah al-Saylaniyyah Fi al-Minhah al-ahmaniyyah Ms.A101,
Jakarta: Perpustakaan Nasional, t. th, h. 3.
[28] Syekh Yusuf,
al-Futuhat al-Ilahiyyah .,h.4.
[29] Syekh Yusuf,
al-Nafhah al-Saylaniyyah fi al-Minhah al-al-Ahmaniyyah Ms. A101, Jakarta:
Perpustakaan Nasional, t.th, h. 2.
[30] Syekh Yusuf
al-Makassari, Zubdat al-Asrar fi tahqiq masharib al-Akhyar. MsA-101,(Jakarta:
Perpustakaan Nasional t.th) ,h. 1-2.
[31] Al-Futuhat
al-Ilahiyyah, h. 11-12.
[32] Syekh Yusuf al-Makassari,
Tuhfat al-Labil bi liqa al-Habib. Ma.A.108, (Jakarta: Perpustakaan
Nasional,t.th, ) , h.3
[33] Nabilah
Lubis, Menyingkap Intisari
Segala Rahasia, 1996 , h. 52
[34] Nabilah Lubis,
Menyingkap Intisari Segala Rahasia,
1996, h. 52-53.
[35] Nabilah Lubis,
Menyingkap Intisari Segala Rahasia, 1996 ., h, 57
0 Comments