Cinta, Rida, Mengenal al-Ahwal, Muraqabah dan Khauf dan integrasi Tasawuf dan sains

Nama                                    : Ahmad Rizky Roenanda
NIM                                       : 72154048
Prodi/Sem                             : Sistem Informasi Semester 3
Perguruan Tinggi                  : Universitas Negri Sumatera Utara
Dosen Pengampu                 : Dr. Ja’far.MA
Matakuliah                             : Akhlak Tasawuf
Tema                                     : Cinta, Rida, Mengenal al-Ahwal, Muraqabah dan Khauf dan Integrasi Tasawuf
Buku                                      : Ja’far, Gerbang Tasawuf (Medan: Perdana Publishing, 2016)

Cinta (al - mahabbah)
            Menurut Al – Ghazali, al – mahabbah adalah al – maqam sebelum rida. Kaum sufi mendasari ajaran mereka tentang cinta dengan Alquran, hadits, dan atsar. Di antara dalilnya adalah Q.S al – Ma’idah/5:54, Q.S al – Shaff/61:4; dan Q.S Ali Imran/3:31. (Ja’far:2016,78).
            Makna al – mahabbah dalam tasawuf dapat dilihat dari ucapan kaum sufi. Junaid al – Baghdadi, misalnya berkata “cinta adalah masuknya sifat – sifat kekasih pada sifat – sifat yang mencintai. Menurut Ibn Qudamah, tanda cinta kepada Allah Swt. adalah senantiasa berzikir kepada Allah; gemar mengasingkan diri hanya untuk bermunajat kepada-Nya seperti membaca Alquran dan tahajud; merasa rugi bila melewatkan waktu tanpa menyebutkan nama-Nya; menyayangi semua hamba Allah,dan bersikap tegas terhadap musuh – musuh-Nya. Menurut Al – Ghazali, mengutip pendapat Yahya bin Mu’az, indikator seorang hamba mencintai Allah Swt. adalah mengutamakan perkataan Allah daripada perkataan manusia, mengutamakan bertemu dengan Allah daripada bertemu dengan makhluk, dan mengutamakan ibadah kepada Allah Swt. daripada melayani manusia.(Ja’far:2016,80).

Rida (al – ridha)
            Kata rida berasal dari kata radhiya, yardha, ridhwanan yang artinya “senang, puas, memilih, menyenangkan, dan menerima.” Dalam kamus bahasa Indonesia, rida adalah “rela, suka, senang hati, perkenan dan rahmat. Kata rida berbagai bentuk disebut di dalam Alquran sebanyak 73 kali. Menurut Al – Ghazli, Islam menilai penting rida yang dapat dilihat dari berbagai dalil dalam Alquran, hadis dan atsar. Diantara dalil rida adalah Q.S al – Ma’idah/5:119; dan Q.S al – Bayyinah/98:8 (Ja’far:2016.80-81).
            Dalam Q.S al – Taubah/9:100, Allah Swt. berfirman
“Orang – orang yang terdahulu lagi yang pertama – tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang – orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga – surga yang mengalir sungai – sungai di dalamnya selama – lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.”
            Ibn Khatib mengatakan bahwa “rida adalah tenangnya hati dengan ketetapan (takdir) Allah Ta’ala dan keserasian hati dengan sesuatu yang dijadikan Allah Ta’ala. Menurut al – Hujwiri, rida terbagi menjadi dua macam : rida Allah terhadap hambanya, dan rida hamba terhadap Allah Swt. Rida Allah terhadap hamba-Nya adalah dengan cara memberikan pahala, nikmat, dan karamah-Nya, sedangkan rida hamba kepada Allah adalah melaksanakan segala perintah-Nya dan tunduk atas segala hukum-Nya (ja’far:2016,83).

Al – Maqam Lainnya
            Sebagian sufi menilai bahwa setelah mencapa maqam rida, seorang salik masih dapat mencapai maqam seperti makrifat (al-ma’rifah), dan menegaskan bahwa al – ridha bukan maqam tertinggi. Al – Kalabazi mengatakan bahwa sebagian sufi membagi makrifat menjadi dua, yakni ma’rifat haq yang berarti penegasan keesaan Allah atas sifat- sifat yang dikemukakan-Nya; dan ma’rifat haqiqah yang bermakna makrifat yang tidak bisa dicapai dengan sarana apapun, sebab sifat-Nya tidak dapat ditembus dan ketuhanan-Nya tidak dapat dipahami
Al – Qusyairi menjelaskan bahwa maksud para sufi dari istilah makrifat adalah “sifat dari orang – orang yang mengenal Allah Swt. dengan nama dan sifat-Nya, dan membenarkan Allah Swt. dengan melaksanakan ajaran-Nya dalam segala perbuatan... [makrifat adalah] pengosongan diri untuk selalu mengingat Allah Swt.

Mengenal al-Ahwal
 Menurut Ja'far (2016: 85) sebagian sufi pernah menyebut beberapa contoh al-ahwal adalahal-muraqabah, al-khauf, al-raja’ dan al-syawq. Berbeda dari al-maqamat yang diraih dari hasil usaha salik secara mandiri dengan melakukan ‘ibadah, mujahadah, dan riyadhah, al-ahwaltidak diraih secara mandiri, melainkan anugerah dari Allah Swt. dan keadaannya tidak kekal dalam diri seorang salik.

Al-Muraqabah
Ajaran muraqabah merupakan salah satu bentuk dari al-ahwal. Menurut a-Qusyairi,muraqabah didasari oleh Q.S. al-Ahzab/33: 52, serta hadis Nabi Muhammad Saw. Mengenal al-iman, al-islam, dan al-ihsan, dimana makna al-ihsan (fa’illam takun tarahu fa innnahu yaraka) merupakan isyarat dari muraqabah yang merupakan ilmu hamba untuk melihat Allah Swt., dan hati meyakini bahwa Allah Swt. Maha Pengawas, mengetahui keadaannya, melihat perbuatannya, dan  mendengat ucapannya. Dengan demikian, seorang hamba memiliki keadaan al-muraqabah, yakni keyakinan seorang salik bahwa dirinya selalu diawasi oleh Allah Swt. dalam berbagai aktivitasnya, sehingga ia hanya akan melakukan amal kebaikan dalam hidupnya, dan membenci dan tidak akan ingin melakukan perbuatan maksiat dan dosa. (Ja’far:2016, 85-86)

 Takut (al-khauf)
Hakikat takut (al-khauf) dapat ditemukan dalam Q.S. al-Fathir/35:28; Q.S. Al-Bayyinah/98: 8 dan terdapat pada surah lainnya. Kata takut disebut Al-Qur’an baik dalam bentuk al-khaufmaupun dalam bentuk al-khasyiya, meskipun maknanya tidak hanya berarti takut kepada Allah.Dalam Q.S. Ali ‘Imran/3: 175, Allah Swt. berfirman:
Artinya : “Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamuu takut kepada mereka tetapu takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang beriman. (Ja’far:2016, 87)
Para sufi telah membicarakan masalah takut (al-Khauf) dalam karya-karya  mereka. Menurut al-Qusyairi, “makna takut kepada Allah Swt. adalah takut kepada siksaan-Nya, baik di dunia maupun akhirat”. Abu al-Qasim al-Hakim mengatakan, “khauf memiliki dua bentuk: rahbah yakni orang yang berlindung kepada Allah Swt; dan khasyyah yakni orang yang ditarik kendali ilmu dan melaksanakan kebenaran”. Berdasarkan pendapat mereka, al-khauf berarti seorang hamba hanya takut kepada Allah Swt., dan tidak takut kepada selain-Nya. Takut kepada Allah Swt. adalah takut atas siksaan-Nya, sehingga seorang hamba akan melaksanakan semua perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. (Ja’far:2016, 88)

 Harap (al-raja’)
Menurut Qusyairi, raja’ adalah “ketergantungan hati pada sesuatu yang dicintai yang akan terjadi di masa yang akan datang.” Abd Allah bin Khubiq berkata “raja’ terdiri atas tiga bentuk: orang yang mengerjakan pekerjaanbaik dan berharap dapat diterima; orang yang mngerjakan perbuatan jahat dan bertobat; dan berharao mendapatkan ampunan; dan orang berdusta da tidak mengulangi dosa, seraya mengharapkan ampunan. Jadi, konsep al-raja’ bermakna harapan seorang sufi kepada Allah Swt., berharap semua amal, tobat, dan ampunannya diterima Allah Swt.(Ja’far:2016, 89)

Rindu (al-syawq)
Di antara yang termasuk al-hal adalah rindu (al-syawq) kepada Allah Swt. Kaum sufi menilai penting konsep rindu kepada Allah Swt. sebagai Kekasih sejati manusia, dan menjadi salah satu tanda kecintaan manusia kepada-Nya. Menurut al-Ghazali, orang yang memungkiri halikat cinta kepada Allah Swt., maka pasti ia akan memungkiri hakikat rindu. Apabila seorang hamba mencintai Allah Swt., maka ia pasti akan merindukan untuk bertemu dan melihat-Nya. (Ja’far:2016, 89)
Para sufi menjelaskan makna al-syawq dalam karya-karya mereka. Al-Qusyairi, misalnya, mengatakan bahwa “rindu adalah keguncangan hati untuk menemui yang dicintai (Allah Swt). Cinta sangat bergantung kepada rindu.” Abu ‘Ali al-Daqaq mengatakan bahwa “al-syawq adalah kerinduan yang bisa reda dengan bertemu dan melihat (Allah Swt.). Dua pendapat sufi ini menegaskan bahwa rindu merupakan keinginan kuat hati untuk menemui dan melihat Kekasih sejatinya, yakni Alllah Swt. (Ja’far:2016, 90)

Integrasi dalam Sejarah Islam
Menurut Ja’far (102:2016), Dalam sejarah intelektual Islam Klasik, budaya integrasi keilmuan telah dikenal dan dikembangkan dengan canggih. Dalam sejarah Islam, ditemukan seorang ahli astronomi, ahli biologi, ahli matematika, dan ahli arsitektur yang mumpuni dalma bidang ilmu-ilmu keislaman seperti tauhid, fikih, tafsir, hadis, dan tasawuf. Meskipun berprofesi sebagai saintis dalam bidang ilmu-ilmu kealaman, para pemikir Muslim klasik menempuh pola hidup sufistik, dan kajian-kajian ilmiah mereka diarahkan kepada pencapaian tujuan-tujuan reigius dan spiritual.
Para filsuf dari mazhab Peripatetik merupakan pemikir Muslim yang berhasil mengintegrasikan filsafat Yunani dengan ajaran Islam yang bersumber kepada Alquran dan hadis, lantaran tema-tema filsafat Yunani diislamisasikan dan disesuaikan dengan paradigma Islam. Tidak sebatas integrasi belaka, mereka malah mampu menguasai berbagai disiplin ilmu yang terdiri dari ilmu-ilmu rasional dan ilmu-ilmu kewahyuan, sehingga integrasi menjadi sangat mudah dilakukan. Al-Razi (w. 925) adalah ahli dalam bidang filsafat, kimia, matematika, sastra, dan kedokteran. Al-Ghazali (w. 1111) adalah seorang teolog, filsuf, dan sufi. Umar Khayyam (w. 1131) adalah matematikawan, astronom, dan sufi. Fakhr al-Din al-Razi (w. 1209) dikenal sebagai ahli filsafat, tasawuf, kedokteran, tafsir, dan fikih. Di antara prestasi besar mereka sebagai ilmuwan Muslim adalah kemampuan mereka menguasai dan mengintegrasikan ilmu-ilmu rasional, ilmu-ilmu empirik, dan ilmu-ilmu kewahyuan. Secara keilmuan, mereka menguasai banyak disiplin ilmu, dan secara personal mereka berperan sebagai saintis Muslim yang berpola hidup religius dan sufistik.
Selain dari mazhab Peripatetik, sejarah Islam menyebutkan keberadaan para filsuf dari mazhab Isyraqiyah dan mazhab Hikmah al-Muta’aliyah yang sukses mengitegrasikan ilmu-ilmu rasional dengan ilmu-ilmu kewahyuan. Di antara mereka adalah Suhrawardi (w. 1191) yang dikenal ahli filsafat, tasawuf, Zoroastrianisme, dan Platonisme. Baha’ al-Din Amili (w. 1621) merupakan seorang fakih, ahli hadis, filsuf, matematikawan, dan arsitek.
Dengan demikian, integrasi ilmu dalam Islam bukan hal yang baru. Meskipun mereka seorang filsuf dan saintis, perilaku hidup mereka merupakan realisasi terhadap teori mereka mengenai filsfat dan sufisme. Dapat disimpulkan bahwa mereka sukses mengitegrasikan antara dua jenis ilmu tersebut, dan mengintegrasikan keduanya dengan keyakinan dan perilaku hidup mereka sehari-hari.

-          Integrasi dalam Ranah Ontologi
Menurut Ja’far (105:2016), Istilah ontologi berasal dari bahasa Yunani, ont yang bermakna keberadaan, dan logos yang bermakna teori, sedangkan dalam bahasa Latin disebut ontologia, sehingga ontologi bermakna teori keberadaan sebagaimana ilmu tentang esensi segala sesuatu. Dengan demikian, ontologi adalah ilmu tentang teori keberadaan, dan istilah ontologi ditujukan kepada pembahasan tentang objek kajian ilmu.
Berbeda dari saintis Barat sekuler, para filsuf Muslim dan sufi berpendapat bahwa ada hubungan erat antara alam dengan Allah Swt. Menurut Ibn ‘Arabi (w. 1240), alam diciptakan Allah Swt. melalui proses tajalli (penampakan diri)-Nya pada alam empiris yang majemuk. Tajalli Allah Swt. mengambil dua bentuk: tajalli dzati dalam bentuk penciptaan potensi; dan tajalli syuhudi dalam bentuk penampakan diri dalam citra alam semesta. Teori Ibn ‘Arabi tentang alam didasari oleh doktrinnya tentang kesatuan wujud (wahdat al-wujud) dan tajalli. Dari perspektif Ibn ‘Arabi, alam merupakan manifestasi sifat-sifat Allah Swt. dan cermin bagi-Nya. Saintis Muslim sebagai peneliti alam empirik (terutama dunia mineral, tumbuhan, binatang, dan manusia) harus menyadari bahwa alam merupakan tanda-tanda keberadaan dan kekuasaan-Nya, sehingga penelitian terhadap alam diharapkan dapat menumbuhkan dan memperkokoh keimanan terhadap-Nya, bukan menjauhkan manusia dari-Nya sebagaimana ditemukan dalam banyak teori ilmuwan-ilmuwan Barat sekular.

-          Integrasi dalam Ranah Epistemologi
Menurut Ja’far (107:2016), Istilah epistemologi berasal dari bahasa Yunani, episteme yang bermakna pengetahuan, dan logos yang bermakna ilmuatau eksplanasi, sehingga epistemologi berarti teori pengetahuan. Epistemologi dimaknai sebagai cabang filsafat yang membahas pengetahuan dan pembenaran, dan kajian pokok epistemologi adalah makna pengetahuan, dan hal-hal yang dapat diketahui. Runes menjelaskan bahwa epistemologi adalah cabang filsafat yang menelusuri asal [sumber], struktur, metode, dan validitas ilmu pengetahuan. Dengan demikian, epistemologi adalah ilmu tentang cara mendapatkan ilmu.
Kajian-kajian ilmu-ilmu alam mengandalkan metode observasi dan eksperimen yang disebut dalam epitemologi Islam sebagai metode tajribi, sedangkan kajian tasawuf mengandalkan metode ‘irfani yang biasa disebut metode tazkiyah al-nafs. Dari perspektif Islam, kesucian jiwa manusia menjadi syarat utama untuk memperoleh ilmu secara langsung dari sumber asalnya, yaitu Allah Swt. yang diketahui memiliki sifat al-‘Alim.

-          Integrasi dalam Ranah Aksiologi
Menurut Ja’far (109:2016), Istilah aksiologi berasal dari bahasa Yunani, axios yang bermakna nilai, dan logos yang berarti teori. Aksiologi bermakna teori nilai, invetigasi terhadap asal, kriteria, dan status metafisik dari nilai tersebut. Menurut Bunnin dan Yu, aksiologi adalah studi umum tentang nilai dan penilaian, termasuk makna, karakteristik, dan klasifikasi nilai, serta dasar dan karakter pertimbangan nilai. Sebab itu, aksiologi disebut dengan teori nilai. Aksiologi juga dimaknai sebagai studi tentang manfaat akhir dari segala sesuatu. Jadi, aksiologi membahas tentang nilai kegunaan ilmu, tujuan pencarian dan pengembangan ilmu, kaitan antara penggunaan dan pengembangan ilmu dengan kaedah moral, serta tanggung jawab sosial ilmuwan. Kajian aksiologi lebih ditujukan kepada pembahasan manfaat dan kegunaan ilmu, dan etika akademik ilmuwan.

Dari aspek etika akademik, nilai-nilai luhur tasawus dapat menjadi landasan etis seorang ilmuwan dalam pengembangan sains dan teknologi. Konsep al-maqamat dan al-ahwal dapat menjadi semacam etika profesi seorang saintis Muslim, sebagaimana ilmuwan Muslim klasik, harus menampilkan kehidupan sufistik seperti sikap zuhud, warak, sabar, tawakkal, cinta, fakir, dan ridha dalam menjalankan kegiatan akademik maupun dalam kehidupan sosialnya. Dengan demikian, saintis Muslim masa depan dituntut untuk mengail kearifan dalam ajaran tasawuf, dan dapat menginternalisasikannya dlam kehidupan akademik dan sosialnya.

Kesimpulan
Dari buku  diats bawasanya seorang sufi hanay memiliki cinta kepada Allah dan menerima akan takdir dari Allah Swt dan seorang salik masih dapat mencapai maqam seperti makrifat (al-ma’rifah), dan menegaskan bahwa al – ridha bukan maqam tertinggi, seorang sufi pasti mengenal akan sifat-sifat Allah dan ia sangat berhati-hati dalam melakukan segala suatu hal karna seorang sufi mengetahui bahwasanya dirinya di awasi oleh Allah Swt, ia pun sangat rindu akan kepada Allah yang hanya bisa reda apabila bertemu Allah Swt

Buku 2             : Haqa’iq at-Tashawwuf (Buku Pendamping) dan Amril, Meretas Jalan Menuju Akhlak Mulia (Bandung: Refika Aditama,   2015)
Identitas Buku
Penulis             : Syaikh ‘Abdul Qadir Isa
Penerbit           : Qisthi Press
Tema               : Cinta, Rida, Mengenal al-Ahwal, Muraqabah dan Khauf

Cinta (Mahabbah)
            Cinta merupakan bentuk tarik – menarik dari satu wujud ke wujud lainnya sedemikian rupa. Secara psikologis, cinta merupakan energi, bagaikan api yang nyalanya dapat menerangi dan panasnya menghidupi jiwa yang sedemikan rupa membangkitkan dinamika kehidupan manusia. Al – Ghazali juga mengatakan, bahwa mahabbah adalah bentuk cinta seseorang kepada yang berbuat baik kepada-Nya. Cinta yang timbul dari kasih dan rahmat Tuhan kepada manusia yang telah memberi hidup, rezeki, kesenangan, dan lain –lain. Mahabbah kepada Allah Swt. adalah tujuan tertinggi dari maqam dan derajat. Adapun aktivitas setelah mahabbah, seperti sawq, uns, ridha, dan seterusnya merupakan hasil atau akibat dari mahabbah (Amril:2015,61-62).
            Dalam kajian tasawuf, ditemukan tahap – tahapn cinta yang dipahami secara metafisika. Tahap – tahap cinta ini adalah sebagai berikut.
Pertama, cinta Allah Swt. untuk diri-Nya sendiri. Kedua cinta-Nya untuk makhluk-Nya, termasuk manusia dengan hasil cintanya seperti ini akan menjalari inti substansi makhluk di semua tingkat eksistensi. Ketiga cinta manusia kepada Ilahi. Keempat, cinta manusia kepada makhluk – makhluk lainnya. Cinta seperti ini merupakan cinta yang diturunkan dan cinta kepada Allah Swt (Amril:2015,62).

Al – Ridha
Secara bahasa, al – ridha berarti rela, suka, dan senang. Dalam kajin sufi, al – ridha itu dimaknai dalam bentuk tidak berusaha menentang qadha qadar Allah swt. Seorang yang bersikapal – ridha akan menerim qadh qdar Allah.Swt. dengan senang hati. Sekalipun ia mendapat musibah, ia akan merasa senang menerima malapetaka itu sebagaimana ia senang menerima nikmat.Berdasarkan pendapat tersebut. Bahwa al – ridha merupakan sikap yang dimiliki seseorang yang tidak didasarkan oleh imbalan atau harapan yang akan didapati dari suatu perbuatan. Semua perbuatan yang dilakukan karena Allah Swt (Amril:2015,82).
            Menurut Amril (2015:83) al – Ridha juga akan membuahkan sikap menerima apa yang semestinya ia dapatkan. Apapun hasil yang didapatnya tidak lepas dari ketetapan dan ketentuan Allah Swt. Dia tidak akan merasa bersedih dan kecewa jika hasil yang didapatnya tidak sesuai dengan yang dinginnkannya. Sebaliknya, dia juga tidak terlalu gembira ketika hasil dari apa yang dilakukan dan dikerjakannya sesuai dengan keinginannya. Sebaliknya, apapun hasil yang didapatnya diserahkannya kepada Allah Swt.

Khauf (Perasaan Takut)
Menurut 'Abdul (2016: 202), Imam al-Ghazali berkata, “Ketahuilah bahwa hakikat dari khauf adalah kepedihandan terbakarnya hati karena memperkirakan akan tertimpa sesuatu yang tidak menyenangkan di masa yang akan datang. Khauf kepada Allah kadang timbul karena perbuatan dosa. Dan kadang dia timbul karena seseorang mengetahui sifat-sifat-Nya yang mengharuskannya untuk takut kepada-Nya. Inilah tingkatan khauf yang paling sempurna. Sebab, Barangsiap mengetahui Allah, maka dia akan takut kepada-Nya. Oleh karena itu, Allah berfirman, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu.
Orang-orang yang takut kepada Allah tidak berada pada satu tingkatan, tapi mereka berada pada tingkatan yang berbeda-beda. Ibnu Ujaibah telah mengelompokkan mereka ke dalam tiga kategori. Pertama, takutnya orang awam dari siksaan dan hilangnya pahala. Kedua, takutnya orang khawwash dari celaan dan hilangnya kedekatan dari sisi-Nya. Ketiga, takutnya orangkhawwashulkhawwash akan tertutupnya pandangan dari akhlak yang buruk.
Raja’ (Pengharapan)
Menurut 'Abdul (2016: 204), menurut Ahmad Zaruq, definisi raja’ adalah kepercayaan atas karunia Allah yang dibuktikan dengan amal. Kalau bukan demikian, maka itu adalah keterperdayaan diri. Allah Swt. telah menganjurkan kita semua untuk mengharapkan karunia-Nya dan melarang kita untuk berputus asa dari rahmat-Nya.
Menurut Ibnu Ujaibah, orang-orang yang mengharap rahmat Allah tidak berada dalam satu tingkatan, tapi mereka berada dalam tingkatan yang berbeda-beda. Tingkatan 
pertama, pengharapan orang awam, yakni tempat kembali yang baik dengan diperolehnya pahala. Tingkatan
kedua, pengharapan orang khawwash, yakni ridha dan kedekatan di sisi-Nya. Dan tingkatan
ketiga, pengaharapan orang khawwashulkhawwash, yakni kemampuan untuk melakukan musyahadah dan bertambahnya tingkatan derajat dalam rahasia-rahasia Tuhan yang disembah.

Kesimpulan

Dari buku ke 2 juga di jelaskan sama dengan buku yang pertama bahwa seorang sufi memiliki rindu, cinta hanya kepada Allah Swt yang mana seorang sufi memiliki perasaan takut kepada Allah Swt

Perbandingan

pada buku karangan pak jafar sudah bisa kita pahami dengan lengakp yang mana sudah di jelaskan dari dalil hingga menurut pendapat para sufi dan dari buku ke dua hanya sebagai pelengkap dari buku karangan pak jafar


Post a Comment

0 Comments