Nama
: Ahmad Rizky Roenanda
NIM
: 72154048
Prodi/Sem
: Sistem Informasi Semester 3
Perguruan
Tinggi
: Universitas Negri Sumatera Utara
Dosen
Pengampu :
Dr. Ja’far.MA
Matakuliah
: Akhlak Tasawuf
Tema
: Cinta, Rida, Mengenal
al-Ahwal, Muraqabah dan Khauf dan Integrasi Tasawuf
Buku
: Ja’far, Gerbang Tasawuf (Medan: Perdana Publishing,
2016)
Cinta (al - mahabbah)
Menurut Al – Ghazali, al – mahabbah adalah al – maqam sebelum rida. Kaum sufi
mendasari ajaran mereka tentang cinta dengan Alquran, hadits, dan atsar. Di
antara dalilnya adalah Q.S al – Ma’idah/5:54, Q.S al – Shaff/61:4; dan Q.S Ali
Imran/3:31. (Ja’far:2016,78).
Makna al – mahabbah dalam tasawuf dapat dilihat dari ucapan kaum sufi. Junaid
al – Baghdadi, misalnya berkata “cinta adalah masuknya sifat – sifat kekasih
pada sifat – sifat yang mencintai. Menurut Ibn Qudamah, tanda cinta kepada
Allah Swt. adalah senantiasa berzikir kepada Allah; gemar mengasingkan diri
hanya untuk bermunajat kepada-Nya seperti membaca Alquran dan tahajud; merasa
rugi bila melewatkan waktu tanpa menyebutkan nama-Nya; menyayangi semua hamba
Allah,dan bersikap tegas terhadap musuh – musuh-Nya. Menurut Al – Ghazali,
mengutip pendapat Yahya bin Mu’az, indikator seorang hamba mencintai Allah Swt.
adalah mengutamakan perkataan Allah daripada perkataan manusia, mengutamakan
bertemu dengan Allah daripada bertemu dengan makhluk, dan mengutamakan ibadah
kepada Allah Swt. daripada melayani manusia.(Ja’far:2016,80).
Rida (al – ridha)
Kata rida berasal dari kata radhiya,
yardha, ridhwanan yang artinya “senang, puas, memilih, menyenangkan,
dan menerima.” Dalam kamus bahasa Indonesia, rida adalah “rela, suka, senang
hati, perkenan dan rahmat. Kata rida berbagai bentuk disebut di dalam Alquran
sebanyak 73 kali. Menurut Al – Ghazli, Islam menilai penting rida yang dapat
dilihat dari berbagai dalil dalam Alquran, hadis dan atsar. Diantara dalil rida
adalah Q.S al – Ma’idah/5:119; dan Q.S al – Bayyinah/98:8 (Ja’far:2016.80-81).
Dalam Q.S al – Taubah/9:100, Allah Swt. berfirman
“Orang – orang yang
terdahulu lagi yang pertama – tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan
Anshar dan orang – orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada
mereka dan mereka pun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga
– surga yang mengalir sungai – sungai di dalamnya selama – lamanya. Mereka kekal
di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.”
Ibn Khatib mengatakan bahwa “rida adalah tenangnya hati dengan ketetapan
(takdir) Allah Ta’ala dan keserasian hati dengan sesuatu yang dijadikan Allah
Ta’ala. Menurut al – Hujwiri, rida terbagi menjadi dua macam : rida Allah
terhadap hambanya, dan rida hamba terhadap Allah Swt. Rida Allah terhadap
hamba-Nya adalah dengan cara memberikan pahala, nikmat, dan karamah-Nya, sedangkan
rida hamba kepada Allah adalah melaksanakan segala perintah-Nya dan tunduk atas
segala hukum-Nya (ja’far:2016,83).
Al – Maqam Lainnya
Sebagian sufi menilai bahwa setelah mencapa maqam rida, seorang salik masih
dapat mencapai maqam seperti makrifat (al-ma’rifah), dan menegaskan bahwa al –
ridha bukan maqam tertinggi. Al – Kalabazi mengatakan bahwa sebagian sufi
membagi makrifat menjadi dua, yakni ma’rifat haq yang berarti penegasan keesaan
Allah atas sifat- sifat yang dikemukakan-Nya; dan ma’rifat haqiqah yang
bermakna makrifat yang tidak bisa dicapai dengan sarana apapun, sebab sifat-Nya
tidak dapat ditembus dan ketuhanan-Nya tidak dapat dipahami
Al – Qusyairi
menjelaskan bahwa maksud para sufi dari istilah makrifat adalah “sifat dari
orang – orang yang mengenal Allah Swt. dengan nama dan sifat-Nya, dan membenarkan
Allah Swt. dengan melaksanakan ajaran-Nya dalam segala perbuatan... [makrifat
adalah] pengosongan diri untuk selalu mengingat Allah Swt.
Mengenal al-Ahwal
Menurut Ja'far (2016: 85) sebagian
sufi pernah menyebut beberapa contoh al-ahwal adalahal-muraqabah,
al-khauf, al-raja’ dan al-syawq. Berbeda dari al-maqamat yang
diraih dari hasil usaha salik secara mandiri dengan melakukan ‘ibadah,
mujahadah, dan riyadhah, al-ahwaltidak diraih secara
mandiri, melainkan anugerah dari Allah Swt. dan keadaannya tidak
kekal dalam diri seorang salik.
Al-Muraqabah
Ajaran muraqabah merupakan
salah satu bentuk dari al-ahwal. Menurut a-Qusyairi,muraqabah didasari
oleh Q.S. al-Ahzab/33: 52, serta hadis Nabi Muhammad Saw. Mengenal al-iman,
al-islam, dan al-ihsan, dimana makna al-ihsan
(fa’illam takun tarahu fa innnahu yaraka) merupakan isyarat dari muraqabah yang
merupakan ilmu hamba untuk melihat Allah Swt., dan hati meyakini bahwa Allah
Swt. Maha Pengawas, mengetahui keadaannya, melihat perbuatannya, dan mendengat
ucapannya. Dengan demikian, seorang hamba memiliki keadaan al-muraqabah, yakni
keyakinan seorang salik bahwa dirinya selalu diawasi oleh
Allah Swt. dalam berbagai aktivitasnya, sehingga ia hanya akan melakukan amal
kebaikan dalam hidupnya, dan membenci dan tidak akan ingin melakukan perbuatan
maksiat dan dosa. (Ja’far:2016, 85-86)
Takut (al-khauf)
Hakikat takut (al-khauf) dapat
ditemukan dalam Q.S. al-Fathir/35:28; Q.S. Al-Bayyinah/98: 8 dan terdapat pada
surah lainnya. Kata takut disebut Al-Qur’an baik dalam bentuk al-khaufmaupun
dalam bentuk al-khasyiya, meskipun maknanya tidak hanya berarti
takut kepada Allah.Dalam Q.S. Ali
‘Imran/3: 175, Allah Swt. berfirman:
Artinya : “Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah
setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik
Quraisy), karena itu janganlah kamuu takut kepada mereka tetapu takutlah
kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang beriman. (Ja’far:2016, 87)
Para sufi telah membicarakan masalah takut (al-Khauf) dalam
karya-karya mereka. Menurut al-Qusyairi, “makna takut kepada Allah
Swt. adalah takut kepada siksaan-Nya, baik di dunia maupun akhirat”. Abu
al-Qasim al-Hakim mengatakan, “khauf memiliki dua bentuk: rahbah yakni
orang yang berlindung kepada Allah Swt; dan khasyyah yakni
orang yang ditarik kendali ilmu dan melaksanakan kebenaran”. Berdasarkan
pendapat mereka, al-khauf berarti seorang hamba hanya takut
kepada Allah Swt., dan tidak takut kepada selain-Nya. Takut kepada Allah Swt.
adalah takut atas siksaan-Nya, sehingga seorang hamba akan melaksanakan semua
perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. (Ja’far:2016, 88)
Harap (al-raja’)
Menurut Qusyairi, raja’ adalah “ketergantungan
hati pada sesuatu yang dicintai yang akan terjadi di masa yang akan datang.”
Abd Allah bin Khubiq berkata “raja’ terdiri atas tiga bentuk:
orang yang mengerjakan pekerjaanbaik dan berharap dapat diterima; orang yang
mngerjakan perbuatan jahat dan bertobat; dan berharao mendapatkan ampunan; dan
orang berdusta da tidak mengulangi dosa, seraya mengharapkan ampunan. Jadi,
konsep al-raja’ bermakna harapan seorang sufi kepada Allah
Swt., berharap semua amal, tobat, dan ampunannya diterima Allah
Swt.(Ja’far:2016, 89)
Rindu (al-syawq)
Di antara yang termasuk al-hal adalah rindu (al-syawq) kepada
Allah Swt. Kaum sufi menilai penting konsep rindu kepada Allah Swt. sebagai
Kekasih sejati manusia, dan menjadi salah satu tanda kecintaan manusia
kepada-Nya. Menurut al-Ghazali, orang yang memungkiri halikat cinta kepada
Allah Swt., maka pasti ia akan memungkiri hakikat rindu. Apabila seorang hamba
mencintai Allah Swt., maka ia pasti akan merindukan untuk bertemu dan
melihat-Nya. (Ja’far:2016, 89)
Para sufi menjelaskan makna al-syawq dalam
karya-karya mereka. Al-Qusyairi, misalnya, mengatakan bahwa “rindu adalah
keguncangan hati untuk menemui yang dicintai (Allah Swt). Cinta sangat
bergantung kepada rindu.” Abu ‘Ali al-Daqaq mengatakan bahwa “al-syawq adalah
kerinduan yang bisa reda dengan bertemu dan melihat (Allah Swt.). Dua pendapat
sufi ini menegaskan bahwa rindu merupakan keinginan kuat hati untuk menemui dan
melihat Kekasih sejatinya, yakni Alllah Swt. (Ja’far:2016, 90)
Integrasi dalam Sejarah Islam
Menurut Ja’far (102:2016), Dalam sejarah intelektual Islam
Klasik, budaya integrasi keilmuan telah dikenal dan dikembangkan dengan
canggih. Dalam sejarah Islam, ditemukan seorang ahli astronomi, ahli biologi,
ahli matematika, dan ahli arsitektur yang mumpuni dalma bidang ilmu-ilmu
keislaman seperti tauhid, fikih, tafsir, hadis, dan tasawuf. Meskipun
berprofesi sebagai saintis dalam bidang ilmu-ilmu kealaman, para pemikir Muslim
klasik menempuh pola hidup sufistik, dan kajian-kajian ilmiah mereka diarahkan
kepada pencapaian tujuan-tujuan reigius dan spiritual.
Para filsuf dari mazhab Peripatetik merupakan pemikir Muslim
yang berhasil mengintegrasikan filsafat Yunani dengan ajaran Islam yang
bersumber kepada Alquran dan hadis, lantaran tema-tema filsafat Yunani
diislamisasikan dan disesuaikan dengan paradigma Islam. Tidak sebatas integrasi
belaka, mereka malah mampu menguasai berbagai disiplin ilmu yang terdiri dari
ilmu-ilmu rasional dan ilmu-ilmu kewahyuan, sehingga integrasi menjadi sangat
mudah dilakukan. Al-Razi (w. 925) adalah ahli dalam bidang filsafat, kimia,
matematika, sastra, dan kedokteran. Al-Ghazali (w. 1111) adalah seorang teolog,
filsuf, dan sufi. Umar Khayyam (w. 1131) adalah matematikawan, astronom, dan
sufi. Fakhr al-Din al-Razi (w. 1209) dikenal sebagai ahli filsafat, tasawuf,
kedokteran, tafsir, dan fikih. Di antara prestasi besar mereka sebagai ilmuwan
Muslim adalah kemampuan mereka menguasai dan mengintegrasikan ilmu-ilmu
rasional, ilmu-ilmu empirik, dan ilmu-ilmu kewahyuan. Secara keilmuan, mereka
menguasai banyak disiplin ilmu, dan secara personal mereka berperan sebagai
saintis Muslim yang berpola hidup religius dan sufistik.
Selain dari mazhab Peripatetik, sejarah Islam menyebutkan
keberadaan para filsuf dari mazhab Isyraqiyah dan mazhab Hikmah al-Muta’aliyah
yang sukses mengitegrasikan ilmu-ilmu rasional dengan ilmu-ilmu kewahyuan. Di
antara mereka adalah Suhrawardi (w. 1191) yang dikenal ahli filsafat, tasawuf,
Zoroastrianisme, dan Platonisme. Baha’ al-Din Amili (w. 1621) merupakan seorang
fakih, ahli hadis, filsuf, matematikawan, dan arsitek.
Dengan demikian, integrasi ilmu dalam Islam bukan hal yang
baru. Meskipun mereka seorang filsuf dan saintis, perilaku hidup mereka
merupakan realisasi terhadap teori mereka mengenai filsfat dan sufisme. Dapat
disimpulkan bahwa mereka sukses mengitegrasikan antara dua jenis ilmu tersebut,
dan mengintegrasikan keduanya dengan keyakinan dan perilaku hidup mereka
sehari-hari.
- Integrasi
dalam Ranah Ontologi
Menurut Ja’far (105:2016), Istilah ontologi berasal dari
bahasa Yunani, ont yang bermakna keberadaan, dan logos yang bermakna teori,
sedangkan dalam bahasa Latin disebut ontologia, sehingga ontologi bermakna
teori keberadaan sebagaimana ilmu tentang esensi segala sesuatu. Dengan
demikian, ontologi adalah ilmu tentang teori keberadaan, dan istilah ontologi
ditujukan kepada pembahasan tentang objek kajian ilmu.
Berbeda dari saintis Barat sekuler, para filsuf Muslim dan
sufi berpendapat bahwa ada hubungan erat antara alam dengan Allah Swt. Menurut
Ibn ‘Arabi (w. 1240), alam diciptakan Allah Swt. melalui proses tajalli
(penampakan diri)-Nya pada alam empiris yang majemuk. Tajalli Allah Swt.
mengambil dua bentuk: tajalli dzati dalam bentuk penciptaan potensi; dan
tajalli syuhudi dalam bentuk penampakan diri dalam citra alam semesta. Teori
Ibn ‘Arabi tentang alam didasari oleh doktrinnya tentang kesatuan wujud (wahdat
al-wujud) dan tajalli. Dari perspektif Ibn ‘Arabi, alam merupakan manifestasi
sifat-sifat Allah Swt. dan cermin bagi-Nya. Saintis Muslim sebagai peneliti
alam empirik (terutama dunia mineral, tumbuhan, binatang, dan manusia) harus
menyadari bahwa alam merupakan tanda-tanda keberadaan dan kekuasaan-Nya,
sehingga penelitian terhadap alam diharapkan dapat menumbuhkan dan memperkokoh
keimanan terhadap-Nya, bukan menjauhkan manusia dari-Nya sebagaimana ditemukan
dalam banyak teori ilmuwan-ilmuwan Barat sekular.
- Integrasi dalam Ranah Epistemologi
Menurut Ja’far (107:2016), Istilah epistemologi berasal dari
bahasa Yunani, episteme yang bermakna pengetahuan, dan logos yang bermakna
ilmuatau eksplanasi, sehingga epistemologi berarti teori pengetahuan.
Epistemologi dimaknai sebagai cabang filsafat yang membahas pengetahuan dan
pembenaran, dan kajian pokok epistemologi adalah makna pengetahuan, dan hal-hal
yang dapat diketahui. Runes menjelaskan bahwa epistemologi adalah cabang
filsafat yang menelusuri asal [sumber], struktur, metode, dan validitas ilmu
pengetahuan. Dengan demikian, epistemologi adalah ilmu tentang cara mendapatkan
ilmu.
Kajian-kajian ilmu-ilmu alam mengandalkan metode observasi
dan eksperimen yang disebut dalam epitemologi Islam sebagai metode tajribi,
sedangkan kajian tasawuf mengandalkan metode ‘irfani yang biasa disebut metode
tazkiyah al-nafs. Dari perspektif Islam, kesucian jiwa manusia menjadi syarat
utama untuk memperoleh ilmu secara langsung dari sumber asalnya, yaitu Allah
Swt. yang diketahui memiliki sifat al-‘Alim.
- Integrasi
dalam Ranah Aksiologi
Menurut Ja’far (109:2016), Istilah aksiologi berasal dari
bahasa Yunani, axios yang bermakna nilai, dan logos yang berarti teori.
Aksiologi bermakna teori nilai, invetigasi terhadap asal, kriteria, dan status
metafisik dari nilai tersebut. Menurut Bunnin dan Yu, aksiologi adalah studi
umum tentang nilai dan penilaian, termasuk makna, karakteristik, dan
klasifikasi nilai, serta dasar dan karakter pertimbangan nilai. Sebab itu,
aksiologi disebut dengan teori nilai. Aksiologi juga dimaknai sebagai studi
tentang manfaat akhir dari segala sesuatu. Jadi, aksiologi membahas tentang
nilai kegunaan ilmu, tujuan pencarian dan pengembangan ilmu, kaitan antara
penggunaan dan pengembangan ilmu dengan kaedah moral, serta tanggung jawab
sosial ilmuwan. Kajian aksiologi lebih ditujukan kepada pembahasan manfaat dan
kegunaan ilmu, dan etika akademik ilmuwan.
Dari aspek etika akademik, nilai-nilai luhur tasawus dapat
menjadi landasan etis seorang ilmuwan dalam pengembangan sains dan teknologi.
Konsep al-maqamat dan al-ahwal dapat menjadi semacam etika profesi seorang
saintis Muslim, sebagaimana ilmuwan Muslim klasik, harus menampilkan kehidupan
sufistik seperti sikap zuhud, warak, sabar, tawakkal, cinta, fakir, dan ridha
dalam menjalankan kegiatan akademik maupun dalam kehidupan sosialnya. Dengan
demikian, saintis Muslim masa depan dituntut untuk mengail kearifan dalam
ajaran tasawuf, dan dapat menginternalisasikannya dlam kehidupan akademik dan
sosialnya.
Kesimpulan
Dari buku diats bawasanya seorang sufi hanay memiliki cinta kepada Allah dan menerima akan takdir dari Allah Swt dan seorang salik masih dapat mencapai maqam seperti makrifat (al-ma’rifah), dan menegaskan bahwa al – ridha bukan maqam tertinggi, seorang sufi pasti mengenal akan sifat-sifat Allah dan ia sangat berhati-hati dalam melakukan segala suatu hal karna seorang sufi mengetahui bahwasanya dirinya di awasi oleh Allah Swt, ia pun sangat rindu akan kepada Allah yang hanya bisa reda apabila bertemu Allah Swt
Buku
2 : Haqa’iq at-Tashawwuf (Buku Pendamping) dan Amril, Meretas Jalan
Menuju Akhlak Mulia (Bandung: Refika Aditama, 2015)
Identitas Buku
Penulis : Syaikh ‘Abdul Qadir Isa
Penerbit : Qisthi Press
Tema : Cinta, Rida, Mengenal al-Ahwal, Muraqabah dan
Khauf
Cinta (Mahabbah)
Cinta merupakan bentuk tarik – menarik dari
satu wujud ke wujud lainnya sedemikian rupa. Secara psikologis, cinta merupakan
energi, bagaikan api yang nyalanya dapat menerangi dan panasnya menghidupi jiwa
yang sedemikan rupa membangkitkan dinamika kehidupan manusia. Al – Ghazali juga
mengatakan, bahwa mahabbah adalah bentuk cinta seseorang
kepada yang berbuat baik kepada-Nya. Cinta yang timbul dari kasih dan rahmat
Tuhan kepada manusia yang telah memberi hidup, rezeki, kesenangan, dan lain
–lain. Mahabbah kepada Allah Swt. adalah tujuan tertinggi dari
maqam dan derajat. Adapun aktivitas setelah mahabbah, seperti sawq, uns, ridha,
dan seterusnya merupakan hasil atau akibat dari mahabbah (Amril:2015,61-62).
Dalam kajian tasawuf, ditemukan tahap – tahapn cinta yang dipahami secara
metafisika. Tahap – tahap cinta ini adalah sebagai berikut.
Pertama, cinta Allah
Swt. untuk diri-Nya sendiri. Kedua cinta-Nya untuk makhluk-Nya, termasuk
manusia dengan hasil cintanya seperti ini akan menjalari inti substansi makhluk
di semua tingkat eksistensi. Ketiga cinta manusia kepada Ilahi. Keempat, cinta
manusia kepada makhluk – makhluk lainnya. Cinta seperti ini merupakan cinta
yang diturunkan dan cinta kepada Allah Swt (Amril:2015,62).
Al – Ridha
Secara bahasa, al – ridha berarti rela, suka,
dan senang. Dalam kajin sufi, al – ridha itu dimaknai dalam
bentuk tidak berusaha menentang qadha qadar Allah swt. Seorang
yang bersikapal – ridha akan menerim qadh qdar Allah.Swt.
dengan senang hati. Sekalipun ia mendapat musibah, ia akan merasa senang
menerima malapetaka itu sebagaimana ia senang menerima nikmat.Berdasarkan
pendapat tersebut. Bahwa al – ridha merupakan sikap yang
dimiliki seseorang yang tidak didasarkan oleh imbalan atau harapan yang akan
didapati dari suatu perbuatan. Semua perbuatan yang dilakukan karena Allah Swt
(Amril:2015,82).
Menurut Amril (2015:83) al – Ridha juga akan membuahkan sikap
menerima apa yang semestinya ia dapatkan. Apapun hasil yang didapatnya tidak
lepas dari ketetapan dan ketentuan Allah Swt. Dia tidak akan merasa bersedih
dan kecewa jika hasil yang didapatnya tidak sesuai dengan yang dinginnkannya.
Sebaliknya, dia juga tidak terlalu gembira ketika hasil dari apa yang dilakukan
dan dikerjakannya sesuai dengan keinginannya. Sebaliknya, apapun hasil yang
didapatnya diserahkannya kepada Allah Swt.
Khauf (Perasaan Takut)
Menurut 'Abdul (2016: 202), Imam al-Ghazali berkata, “Ketahuilah
bahwa hakikat dari khauf adalah kepedihandan terbakarnya hati karena
memperkirakan akan tertimpa sesuatu yang tidak menyenangkan di masa yang akan
datang. Khauf kepada Allah kadang timbul karena perbuatan dosa. Dan kadang dia
timbul karena seseorang mengetahui sifat-sifat-Nya yang mengharuskannya untuk
takut kepada-Nya. Inilah tingkatan khauf yang paling sempurna. Sebab,
Barangsiap mengetahui Allah, maka dia akan takut kepada-Nya. Oleh karena itu,
Allah berfirman, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu.
Orang-orang yang takut kepada Allah tidak berada pada satu
tingkatan, tapi mereka berada pada tingkatan yang berbeda-beda. Ibnu Ujaibah
telah mengelompokkan mereka ke dalam tiga kategori. Pertama, takutnya
orang awam dari siksaan dan hilangnya pahala. Kedua, takutnya
orang khawwash dari celaan dan hilangnya kedekatan dari
sisi-Nya. Ketiga, takutnya orangkhawwashulkhawwash akan
tertutupnya pandangan dari akhlak yang buruk.
Raja’ (Pengharapan)
Menurut 'Abdul (2016: 204), menurut Ahmad Zaruq, definisi raja’ adalah
kepercayaan atas karunia Allah yang dibuktikan dengan amal. Kalau bukan
demikian, maka itu adalah keterperdayaan diri. Allah Swt. telah menganjurkan
kita semua untuk mengharapkan karunia-Nya dan melarang kita untuk berputus asa
dari rahmat-Nya.
Menurut Ibnu Ujaibah, orang-orang yang mengharap rahmat Allah
tidak berada dalam satu tingkatan, tapi mereka berada dalam tingkatan yang
berbeda-beda. Tingkatan
pertama, pengharapan orang
awam, yakni tempat kembali yang baik dengan diperolehnya pahala. Tingkatan
kedua, pengharapan orang khawwash, yakni
ridha dan kedekatan di sisi-Nya. Dan tingkatan
ketiga, pengaharapan orang khawwashulkhawwash, yakni
kemampuan untuk melakukan musyahadah dan bertambahnya tingkatan
derajat dalam rahasia-rahasia Tuhan yang disembah.
Kesimpulan
Dari buku ke 2 juga di jelaskan sama dengan buku yang pertama bahwa seorang sufi memiliki rindu, cinta hanya kepada Allah Swt yang mana seorang sufi memiliki perasaan takut kepada Allah Swt
Perbandingan
pada buku karangan pak jafar sudah bisa kita pahami dengan lengakp yang mana sudah di jelaskan dari dalil hingga menurut pendapat para sufi dan dari buku ke dua hanya sebagai pelengkap dari buku karangan pak jafar
0 Comments