Nama : Ahmad
Rizky Roenanda
NIM :
72154048
Prodi/Sem : Sistem Informasi
Semester 3
Perguruan Tinggi : Universitas Negri Sumatera Utara
Dosen Pengampu : Dr. Ja’far.MA
Matakuliah : Akhlak Tasawuf
Tema :
Tobat.Wara.Zuhud
Buku 1 : Ja’far,
Gerbang Tasawuf(Medan:Perdana Publishing, 2016)
Kesimpulan
Tobat
Dalam bahasa indonesia, tobat
bermakna”sadar dan menyesal akan dosa(perbuatan yang salah atau jahat) dan
berniat akan mempernaiki tingkah laku dan perbuatan.”Maqam tobat
(al-taubah) merupakan maqam pertama yang harus dilewati setiap salik dan
diraih dengan menjalankan ibadah,mujahadah,dan riyadah. Hampir semua sufi
sepakat bahwa tobat adalah maqam pertama yang harus diperoleh setiap detik.
Istilah tobat berasal dari bahasa Arab, taba,yatubu,tobatan, yang berarti
kembali, dann disebut oleh Al-Qur’an sebanyak 87 kali dalam berbagai bentuk.
Al-Qur’an menyebutkan bahwa di antara sifat Allah adalah tawwab yang
disebut sebanyak 8 kali, dan tawwaba yang disebut 3 kali. Data ini
menunjukkan bahwa konsep tobat sanga penting dalam ajaran islam.
Dalam Q.S. Al-Tahrim
66:8
“Hai orang-orang
yang beriman, betobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya
mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan
kamu kedalam surga uang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika
Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia;
sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil
mereka mengatakan: Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan
ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
Dalam sunan ibn Majah, disebutkan:
عن ا بي ھريرہ عن النبي صلی اللہ عليہ وسلم
قال ان اللہ عز وجل وافرح بتوبۃ احد منہ بضالتہ اذا وجدھا۔
Dari Abi Hurairah dari
Nabi Muhammad Saw. Berkata sesungguhnya Allah Azza Wa jalla lebih gembira
dengan tobat salah seorang di antara kalaian daripada kegembiraan seseorang
ketika menemukan kembali barangnya yang hilang.
Menurut al-Ghazali,
tobat adalah meninggalkan dosa, dan tidak akan mungkin akan dapat meninggalkan dosa
bila tidak mengenal macam-macam dosa, sedangkan hukum mengetahui macam-macam
dosa adalah wajib.
Manusia tobat dibagi
menjadi empat tingkat
Pertama, seorang hamba melakukan maksiat dan bertaubat,
serta istkamah sampai akhir hidupnya, inilah tingkatan tobat para Nabi dan
rasul
Kedua, seorang hamba bertaubat,istikomah menjalankan
ibadah dan meninggalkan dosa-dosa besar, tetapi tidak dapat terlepas dari
dosa-dosa yang dilakukan tanpa sengaja dan menyseali pernuatan dosa yang
dilakukan tanpa sengaja tersebut.
Ketiga, seorang hamba bertobat secara terus menerus
sampai akhirnya nafsu syahwat mengalahkannya sehingga ia melakukan sebagian dosa.
Hamba tersebut rajin beribadah, meninggalkan sejumlah dosa, meskipun terkadang
kalah dengan godaan hawa nafsu sehingga melakukan sebahagian dosa.
Keempat, seseorang hamba bertaubat, tetapi akhirnya
kembali melakukan pernuatan dosa, dan ia sama sekali tidak menyesali
perbuatannya tersebut.
Warak (Wara’)
Kata wara berasal dari
bahasa arab, wara’a yari’u,wara’an yang bermakna berati-hati, tetapi dalam
kamus bahasa indonesia warak bermakna “patuh dan taat kepada Allah”. Di dunia
tasawuf, kata warak ditandai dengan kehati-hatian dan kewaspadaan tinggi.
Al-Qusyairi
menjelaskan bahwa “wara’ adalah meninggalkan segala hal yang syubhat. Ibrahim bin
Adam berkata, “wara’ adalah meninggalkan hal-hal yang syuhbat dan segala hal
yang tidak pasti yakni meninggalkan hal-hal yang tidak berfaedah. Yahya bin Mu’az
berkata “wara’ terbagi menjadi dua, wara lahir yaitu semua gerak aktivitas
hanya tertuju kepada Allah SWT., dan wara batin yaitu hati yang tidak dimasuki
apapun kecuali hanya mengingat Allah Swt.
Zuhud (al-Zuhd)
kata zuhud berasal
dari bahsa Arab, zahada, yazhudu, zuhdan yang artinya menjauhkan diri, tidak
menjadi berkeinginan dan tidak tertarik. Dalam bahasa Indonesia, Zuhud berarti “perihal
meninggalkan keduniawian; pertapaan.”
Al-Ghazali menyebutkan
dalil-dalil kewajiban dan keutamaan zuhud kitab ihya ulum aldin. Di antara
dalil tentang zuhud adalah Q.S Al-Qashash/27:79-90;Q.S al-Syura/42:20;Q.S.
Thaha/20:131; Q.S Ibrahim/14:3; dan Q.S al-Nisa/4:77.
Para sufi memberikan
banyak penjelasan mengenai hakikat zuhud. Junaid mengatakan bahwa zuhud adalah “tangan
seseorang kosong dari kepemilikan dan kekosongan hati dari amnisi.”Menurut
al-Qusyairi, “ zuhud adalah meninggalkan yang haram, karena yang halal
dibolehkan oleh Allah Swt... zuhud adalah meninggalkan yang haram adalah wajib
dan meninggalkan halal adalah keutamaan..” Abu Ali al-Daqaq berkata,” zuhud
adaah sikap anti kemewahan dunia..” Ibn jalla berkata, “zuhud adalah memandang
kehidupan dunia hanya sekedar pergeseran bentuk yang tidak memiliki arti dalam
pandangan, sehingga ia akan menjadi sirna”.
Kesimpulan
Untuk menjadi seorang
sufi kita harus memahami betul tentang taubat yang baik sepertia apa di buku
ini menjelaskan bahwa taubat yang baik adalah menyesal atas kesalahan yang di
perbuat dan tidak melakukanya lagi dan istkomah dalam melakukanya hingga akhir
hayatnya, itulah tobatnya para Nabi setelah kita benar-benar sudah melakukan
taubat yang baik maka selanjutnya kita harus bersifat wara (berhati-hati) dan
meninggalkan yang menimbulkan keraguan dan bersifat zuhud (menjauhkan diri)
BUKU 2 : Akhlak Tasawuf dan
karakter Mulia
Identitas Buku : Prof.Dr.H.Abuddin Nata, M.A(Rajawali
Pers)
Sub 1 : Al-Zuhud,Al-Taubah,Al-Wara
Kesimpulan
Al-Zuhud
Secara harfiah al-zuhud berarti tidak ingin
kepada sesuatu yang bersifat keduniawian. Sedangkanmenurut Harun Nasuiton zuhud
artinya keadaan meninggalkan dunia dan hidup kematerian. Ada beberapa ulama
yang berbeda pendapat dalam mengartikan zuhud. Sebaian ada yang mengatakan
bahwa zuhud adalah orang yang zuhud di dalam masalah yang haram, karena yang
halal adalah sesuatu yang mubah dalam pandangan Allah, yaitu orang yang
debrikan nikmat berupa harta yang halal, kemudian ia bersyukur dan meninggalkan
dunia itu dengan kesadarannya sendiri dan ada pula yang mengatakan bahwa zuhud
adalah zuhud dalam yang haram sebagai suatu kewajiban.
Zuhud termasuk salah
satu ajaran agama yang sangat penting dalam rangka mengendalikan diri dari
pengaruh kehidupan di dunia jadi orang yang zuhud itu hanya mengejar
kebahagiaan hidupnya nanti di akhirat yang kekal dan abadi dari pada mengejar
kehidupan di dunia yang hanya bersifat sementara. Hal ini dapat kita temukan
dalam Q.S Al-Nisa/4:77
“kayakanlah
kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang
yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun”
Ayat di atas
menjelaskan bahwa kehidupan di dunia hanya sekejap dan tidak kekal selamanya
Al-Taubah
Al-Taubat berasal dari
bahasa Arab taba,yatubu,taubatan yang artinya kembali sedangkan taubat yang
dimaksud oleh kalangan sufi adalah memohon ampun atas segala dosa dan kesalahan
disertai janji yang sungguh-sungguh tidak akan mengulangi perbuatan dosa
tersebut, yang disertai dengan melakukan amal kebijakan. Taubat yang sebenarnya
dalam paham sufisme ialah lupa pada segala hal kecuali tuhan. Orang yang taubat
adalah orang yang cinta pada Allah, dan orang yang demikian senantiasa
mengadakan kontemplasi tentang Allah.
Al-Wara’
Secara harfiah al-wara’
artinya saleh, menjauhkan diri dari perbuatan dosa. Kata ini selanjutnya
mengandung arti menjauhi hal-hal yang tidak baik. Dan dalam pengertian sufi
al-wara adalah meninggalkan segala yang di dalamnya terdapat keragu-raguan
antara halal dan haram. Kaum sufi menyadari benar bahwa setiap makanan,
minuman, pakaian, dan sebagainya yang haram dapat memberi pengaruh bagi orang
yang memakan, meminum atau memakannya. orang yang demikian akan keras hatinya,
sulit mendapatkan hidayah dan ilham dari tuhan
Kesimpulan
Di buku ini yang
pertama di jelaskan adalah tentang zuhud yang mana artinya meninggalkan yang
bersifat keduniawian yang mana artinya orang yang zuhud itu sifatnya lebih
mementingkan akhirat dari pada dunia, kenapa? Karena dalam Q.S Al-Nisa
dijelaskan bahwa kehidupan di dunia itu hanya sementara setelah zuhud di
jelaksan tentang taubat yang mana orang yang taubat adalah orang yang cinta
pada Allah, dalam buku ini Al-Wara di artikan Saleh yang mana seorang yang
saleh pasti memiliki sifat menjauhakn diri dari segala perbuatan dosa.
Perbandingan
Dari kedua buku di
atas sama-sama menjelaskan bahwa taubat itu adalah menyesali perbuatan dosa yang
telah di lakukan dan berniat untuk tidak melakukanya lagi sehingga dia menjadi
seorang sufi yang hatinya penuh dengan ketuhanan, yang bersifat wara dan zuhud.
Dalam kedua buku ini sama-sama menjelaskan bahwa taubat itu artinya memohon ampun,
wara artinya berhati-hati, dan zuhud menjauhkan diri
0 Comments