Al maqamat


Nama                                    : Ahmad Rizky Roenanda

NIM                                       : 72154048

Prodi/Sem                          : Sistem Informasi Semester 3

Perguruan Tinggi              : Universitas Negri Sumatera Utara

Dosen Pengampu            : Dr. Ja’far.MA

Matakuliah                         : Akhlak Tasawuf

Tema                                     : Al-Maqamat

Buku 1                                  : Ja’far, Gerbang Tasawuf(Medan:Perdana Publishing, 2016)

Sub 1                                     : Definisi

Sub 2                                     : Pondasi al-Maqamat

Sub 3                                     : Hierarki al-Maqamat

Definisi

Menurut Ja’far (48:2016), karya-karya sufi telah menunjukkan bahwa tasawuf sebagai disiplin ilmu dirancang sebagai media informasi bagi manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sebab itu, para sufi menyusun teori mengenai usaha-usaha untuk menempuh perjalanan spiritual (thariqah) berupa tangga-tangga pendakian spiritual yang disebut al-maqamat. Hakikat al-maqamat biasanya juga diiringi kajian tentang ahwal, sebab keduanya tidak bisa dibahas secara terpisah. Dalam kitab al-Luma’, al-Thusi menjelaskan bahwa maqamat adalah tingkatan antara seorang hamba dengan Allah SWT. Sedangkan al-ahwal adalah keadaan hati (qalb) seorang sufi sebagai akibat dari kemurnian zikirnya.

Dalam Adab al-Muridin, abu al-Najib al-Suhrawardi, al-maqamat adalah tingkatan spiritual seorang hamba dalam ibadah di hadapan Allah Swt. Dalam Risalah al-Qusyairiyyah, al-Qusyairi menjelaskan bahwa al-maqamat adalah tingkatan spiritual yang akan diraih salik dengan jalan mujahadah dan mengamalkan adab-adab, perilaku, dan sikap tertentu, serta riyadhah. Menurutnya, seorang salik tidak akan dapat menaiki maqam selanjutnya sebelum berhasil menjalani dan memperoleh maqam sebelumnya.

Al-Qusyairi menjelaskan perbedaan antara al-ahwal dengan al-maqamat : “Al-hal menurut kaum (sufi) adalah makna yang hadir dalam hati tanpa unsur kesengajaan, upaya, latihan, dan pemaksaan seperti gembira, sedih, lapang, sempit, rindu, gelisah, takut, dan gemetar. Al-hal merupakan pemberian, sedangkan al-maqamat merupakan hasil usaha. Al-hal datang dari Allah ke dalam jiwanya (sufi), sedangkan al-maqamat merupakan hasil usaha dengan mujahadah secara terus menerus. Pemilik al-maqam memungkinkan dapat menduduki al-maqam secara tetap, sedangkan pemilik al-hal sering mengalami naik turun sesuai keadaan hatinya.” Dengan demikian, al-maqamat adalah tingkatan-tingkatan spiritual seorang sufi,dari tingkatan paling mendasar sampai tingkatan tertinggi, yaitu dekat dengan Allah Swt, Al-ahwal merupakan pemberian Allah Swt. Kepada salik yang sedang menjalani beragam ibadah untuk menapaki satu persatu maqam dari yang awal sampai yang paling akhir sebagai puncak tertinggi dari kedudukan spiritual yang mungkin dicapai seorang sufi.

 

-          Pondasi al-Maqamat

 

Dalam memperoleh maqam tertentu, selain wajib menjalankan berbagai bentuk ibadah, mujahadah, dan riyadhah, seorang salik harus melakukan khalwah dan ‘uzlah dalam melaksanakan perjalanan spiritual menuju Allah Swt. Dalam Risalah al-Qusyairiyah, al-Qusyairi menjelaskan bahwa menyepi (khalwah) adalah sifat ahli sufi, dan mengasingkan diri (‘uzlah) menjadi tanda seseorang telah bersambung dengan Allah Swt. Praktik spiritual ini memberikan manfaat bagi penempuh jalan seperti menghindarkan diri dari semua sifat tercela, menghasilkan kemuliaan, mendekatkan diri kepada Alah Swt. Dan mengobati hati.

 

Khalwah (menyepi) adalah pemutusan hubungan dengan makhluk menuju penyambungan hubungan dengan al-Haqq. Sedangkan hakikat ‘uzlah (mengasingkan diri) adalah menjaga keselamatan diri dari niat buruk orang lain. Dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din, al-Ghazali menjelaskan bahwa praktik mengasingkan diri memiliki banyak manfaat bagi seorang penempuh ilmu jalan spiritual. Pertama, dapat mengosongkan dirinya hanya dengan beribadah kepada Allah Swt. Kedua, dapat melepaskan diri dari perbuatan-perbuatan maksiat yang biasa dilakukan dan dihadapi manusia selama hidup bermasyarakat seperti mengumpat, adu domba, dan pamer. Ketiga, membebaskan diri dari kejahatan-kejahatan manusia. Keempat, memutuskan diri dari kerakusan manusia dan kerakusan terhadap dunia. Kelima, membebaskan diri dari penyaksian atas orang-orang yang berperangai buruk dan bodoh. Keenam, menghasilkan ketaatan dalam kesendirian dan terlepas dari perbuatan tercela  dan larangan Allah Swt.

 

Selama berkhalwat, salik harus berusaha membebaskan diri dari seluruh gangguan indrawi, gangguan batin dan  mendisplinkan aspek-aspek hewani dalam dirinya sehingga ia tidak mengikuti kecendrungan kepada berbagai aspek tersebut. Dalam khalwah dan ‘uzlah, seorang salik harus menjalankan berbagai bentuk ibadah, mujahadah, dan riyadhah. Salah satu yang menjadi andalan seorang salik adalah zikir. Menurut ‘Umar Suhrawardi, seorang salik mengamalkan berbagai bentuk wirid yang terus menerus diulang oleh semua sufi, antara lain la ilaha illallah, ya Allah, ya Hu, ya Haqq, ya Hayy, ya Qayyum, dan ya Qahhar. Selain itu, seorang salik yang sedang berkhalwat harus dalam keadaan berwudhu, berpuasa, sedikit makan, sedikit tidur, sedikit bicara, menafikan berbagai pikiran, dan terus beramal ibadah dengan menjalankan ibadah salat (wajib dan sunnah) dan zikir. Kebanyakan sufi mengadakan khalwah selama empat puluh hari, meskipun banyak sufi terus menerus melakukan khalwah dalam waktu bertahun-tahun.

 

Mengenai mujahadah, teori ini antara lain didasari oleh Q.S. al-‘Ankabut/29:69. Hasaan al-Qazaz, mengatakan bahwa “mujahadah dibangun atas tiga hal: tidak makan bila sangat butuh, tidak tidur kecuali mengantuk, dan tidak bicara kecuali terdesak.”riyadhah adalah menahan jiwa binatang agar salik tidak mengikuti kecenderungannya terhadap nafsu dan amarah, dan menahan jiwa rasional agar tidak menuruti insting binatang serta watak dan perbuatan tercela. Riyadhah dimaknai juga sebagai pembiasaan jiwa manusia untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat mengarahkannya menuju kesempurnaan yang dapat dicapainya. Tujuan riyadhah adalah menghilangkan semua hambatan yang merintangi jalan menuju  Allah terutama kesenangan lahir dan batin; menundukkan jiwa binatang kepada akal praktis yang mendorong jiwa dalam mencari kebenaran; dan membiasakan jiwa agar selalu siap untuk menerima pancaran Allah Swt.

 

-          Hierarki al-Maqamat

 

Sekadar contoh mengenai al-maqamat, dari tingkat paling awal yang harus dilewati seorang salik sampai tingkat tertinggi yang mungkin dicapainya, al-Thusi (w.988M) menyebutkan bahwa tingkatan al-maqamat adalah diawali dari tobat, warak, zuhud, kefakiran, sabar, tawakal, kerelaan, dan menurut Abu al-Najib al-Suhrawardi (w.1168) adalah al-intibah, al-taubah, al-inabah, al-wara’, muhasabah al-nafs, ridha, al-ikhlash, dan al-tawakkul. Al-Kalabazi (w. 995 M) menulis bahwa tingkatan maqamat adalah diawali dari tobat, zuhud, sabar, kefakiran, rendah hati, tawakkal, kerelaan, cinta dan makrifat. Al-Qusyairi (w.1073 M) menyebut bahwa tingkatan al-maqamat adalah diawali dari tobat, warak, zuhud, tawakal, sabar, dan kerelaan. Al-Ghazali (w. 1111 M) menyebut bahwa tingkatan al-maqamat adalah diawali dari tobat, sabar, kefakiran, zuhud, tawakal, cinta, dan kerelaan. Kaum sufi sepakat bahwa perjalanan spiritual jiwa manusia menuju Allah Swt. Harus diawali dari tingkatan tobat sampai tingkat rida sebagai tingkatan spiritual tertinggi.

 

-          Kesimpulan

Al maqamat dan al ahwal sangat berkaitan erat dalam menjadi seorang sufi yang mana bagi seorang sufi harus melalui tahapan-tahapan (maqamat) untu menjadi seorang sufi al-maqamat adalah tingkatan spiritual yang akan diraih salik dengan jalan mujahadah dan mengamalkan adab-adab, perilaku, dan sikap tertentu, serta riyadhah

 

 

 

 

 

 

BUKU 2                      : TASAWUF STUDIES : Pengantar Belajar Tasawuf (Buku Pembanding)

 

Identitas Buku                  : Dr. H,  Syamsun Ni’am, M. Ag. (Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA, 2014)           

 

Sub 1 : Perspektif Maqamat dan Ahwal dan Macam-Macam Maqamat

 

Kesimpulan

 Perspektif Maqamat dan Ahwal

 

Menurut Syamsun Ni’am (137:2014), maqamat adalah bentuk jamak dari kata maqam yang secara bahasa berarti pangkat atau derajat. Sementara menurut istilah ilmu tasawuf, maqamat adalah kedudukan seorang hamba di hadapan Allah, yang diperoleh melalui peribadatan, mujahadat, dan lain-lain. Latihan spiritual serta (berhubungan) yang tidak ada putus-putusnya dengan Allah Swt. Atau secara teknis maqamat juga berarti aktivitas dan usaha maksimal seorang sufi untuk meningkatkan kualitas spiritual dan kedudukannya (maqam) di hadapan Allah Swt. sedangkan ahwal adalah bentuk jamak dari kata hal , yang secara bahasa berarti kondisi, keadaan. Menurut istilah ilmu tasawuf (‘ind al-mutashawwifin), hal berarti persaan yang menggerakkan dan memengaruhi hati yang disebabkan karena bersihnya dzikir.

Adapun langkah-langkah bagi seorang penempuh tasawuf awal yaitu :

Pertama adalah Taubat

Kedua ialah Zuhud

Ketiga Wara

Keempat Faqr

Kelima Sabar

Keenam  Tawakkal

Ketujuh Ridha

 Bagi seorang penempuh tasawuf awal , langkah pertama yang harus dilakukan adalah taubat. Kedua ialah zuhud, ketiga wara’, keempat faqr, kelima sabar, keenam tawakkal, dan ketujuh ridha.

Itu semua hanya latihan untuk memasuki dunia sufistik. Maka dari itu jalan yang ditempuh seseorang untuk sampai ke tingkat melihat Tuhan dengan mata hati dan akhir nya bersatu dengan Tuhan sangatlah panjang dan penuh rintangan

 

Macam-Macam Maqamat

Tahapan-tahapan maqamat (station)

Pada station pertama seorang calon sufi harus taubat dari dosa-dosa besar yang dilakukannya. Taubat yang dimaksud adalah taubat an-nasuha, yaitu taubat yang membuat orangnya menyesal atas dosa-dosanya yang lampau dan betul-betul tidak berbuat dosa lagi walaupun sekecil apapun. Untuk memantapkan taubatnya ia pindah ke station kedua, yaitu zuhud. Di station ini ia menjauhkan diri dari dunia materi dan dunia ramai. Ia Sampailah ia ke station wara’. Di station ini ia dijauhkan Tuhan dari perbuatan-perbuatan syubhat.  Dari station wara’, ia pindah ke station faqr. Di station ini ia menjalani hidup kefakiran. Setelah menjalani hidup kefakiran ia sampai ke station sabar. Ia sabar dalam segala hal, bukan hanya dengan larangan tuhan tapi dengan cobaan-cobaannya. Ia sabar menderita. Selanjutnya, ia pindah ke station tawakkal. Ia menyerahkan diri sebulat-bulatnya kepada kehendak Tuhan. Dari station tawakkal, ia meningkat ke station ridha. Dari station ini ia tidak menentang percobaan dari Tuhan bahkan ia menerima dengan senang hati.

 

Kesimpulan

Sebagai seorang calon sufi ada beberapa tahapan atau station yang harus di lalui untuk menjadi seorang sufi yang baik seperti hal yang pertama di lakukanya adalah taubat yang mana taubatnya ini menyesal akan dosa-dosa yang lampau dan bersungguh-sungguh tidak melakukan dosa itu lagi

 

Perbandingan

Dari kedua buku di atas sama-sama di sebutkan al-maqamat adalah tahapan-tahapan yang harus dilalui oleh seorang sufi untuk mendekatkan diri pada Allah SWT yang mana tahapan-tahapan itu harus di jalankan dengan niat yang sungguh-sungguh

Post a Comment

0 Comments