Metode Tazkiyah al-Nafs


Nama                                    : Ahmad Rizky Roenanda

NIM                                       : 72154048

Prodi/Sem                          : Sistem Informasi Semester 3

Perguruan Tinggi              : Universitas Negri Sumatera Utara

Dosen Pengampu            : Dr. Ja’far.MA

Matakuliah                         : Akhlak Tasawuf

Tema                                     : Peran Hati Dalam Tasawuf

Buku 1                                  : Ja’far, Gerbang Tasawuf(Medan:Perdana Publishing, 2016)

Sub 1                                     : Metode Tazkiyah al-Nafs

Kesimpulan

Metode Tazkiyah al-Nafs

Menurut Ja’far(39:2016) Kaum sufi meyakini bahwa akal manusia masih memiliki kelemahan, meskipun relatif sukses memberikan gambaran rasional terhadap dunia spiritual. Metode tazkiyah al-Nafs atau irfani yang dinilai sangat ampuh menutupi kelemahan metode burhani, dalam epistemologi burhani, masih ditemukan jarak antara objek yang dipikirkan dengan subjek yang memikirkan, sedangkan dalam espitemologi irfani, tidak ditemukan jarak tersebut, karena telah terjadi persatuan antara objek yang dipikirkan dengan subjek yang memikirkan keabsahan tazkiyah al-nafs (metode irfani) diakui oleh kitab suci umat islam. Alquran, misalnya, menegaskan bahwa para nabi dan rasul diutus untuk menyucikan jiwa manusia (QS Ali Imran/3:164)

Metode ‘irfani ialah metode yang diterapkan oleh kaum sufi dalam islam dan mengandalkan aktivitas penyucian jiwa untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, dan menilai bahwa ilmu hakiki hanya bisa diraih dengan cara mendekatkan diri kepada sang Maha Mengetahui, bukan dengan metode observasi atau eksperimen. Kaum sufi yang memiliki keyakinan seperti itu ialah al-Ghazali (w.1111), Ibn ‘Arabi (w.1240), Suhrawardi (w. 1191), dan Mulla Shadra (w.1640).

Al-Ghazali  meninggalkan harta, tahta, dan keluarga yang dimilikinya untuk mempraktekkan semua metode kaum sufi dengan mengadakan khalwan selama 10 tahun. Menurut al-Ghazali mazhab dapat diwujudkan secara sempurna hanya dengan ilmu dan amal. Menurutnya juga, jiwa dan hati manusia menjadi rusak dan hancur jika manusia bersikap ateis dan mengikuti hawa nafsu, sedangkan hati menjadi sehat manakala mengenal Allah (makrifat), mengikuti ajaran para nabi sebagai pembawa ajaran agama, dan senantiasa melaksanakan ibadah secara mantap, sehingga mencapai derajat qalbun salim. Sebagaiman ditegaskan bahwa tasawuf tidak hanya sekedar ilmu,melainkan amal, sehingga dasar pijakan kaum sufi adalah mengamalkan ajaran kaum sufi dengan ‘uzalah, khawalah, riyadah, mujahadah, ‘ibadah dan zikir sebagai sarana paling tepat untuk menyucikan jiwa manusia.

Kesimpulan

Akal manusia masih memiliki kelemahan maka dari itu di perlukan  metode irfani untuk mengendalikan aktivitas penyucian jiwa mendekatkan diri pada Allah SWT, sesungguhnya ilmu yang hakiki itu hanya bisa diraih dengan kita mendekatkan diri kepada sang maha mengetahui dan bukan dengan metode observasi atau eksperimen. Di jelaskan di atas bahwa ada kaum sufi yang memiliki keyakinan hingga meninggalkan harta, tahta dan keluarga untuk mempraktekkan semua metode kaum sufi dengan mengadakan khalwan selama 10 tahun ialah Al-Ghazali menurutnya majhab dapat diwujudkan secara sempurna dengan ilmu dan amal. Begitulah kesungguhan seorang sufi untuk mencapai kesucian fikiran dan jiwa hingga rela meninggalkan segala hal, tasawuf juga bukan hanya sekedar ilmu, melainkan amal sehingga kaum sufi mengamalkan ajaran dengan uzalah,khawalah,riyadah,mujahadah,ibadah dan zikir sebagai sarana paling tepat untuk menyucikan jiwa

Buku 2             : Tasawuf Studies

 

Bab 1               : Objek kajian Tasawuf

Objek kajian Tasawuf

Hati di dalam bahasa Arab disebut al-qalb. Menurut ahli biologi qalbu adalah adalah segumpal darah terletak di dalam rongga dada, agak ke sebelah kiri, warnannya agak kecokelatan dan berbentuk segitiga. Tetapi yang dimaksudkan di sini adalah bersifat immateri. Hati yang berbentuk materi menjadi objek kajian bilogi. Sementara hati immateri menjadi objek kajian tasawuf . Al-Ghazali menjelaskan hati immateri ini dalam kitab ihya Ulum ad-din yang halus dan indah, bersifat immateri, yang ada hubungannya dengan hati materi. Yang halus dan indah inilah yang menjadi hakikat kemanusiaan dan yang mengenal dan mengetahui segala sesuatu. Hati ini juga yang menjadi sasaran perintah, sasaran cela, sasaran hukuman dan tuntutan (taklif) Tuhan. Al-Ghazali membedakan antara nafi, rab, hati, dan akal nafi mempunyai dua arti. Pertama himpunan kekuatan marah dan syahwat dalam diri insan kedua, sesuatu yang indah dan halus yang menjadi hakikat manusia.

 

Dari aspek tingkatan dan tempatnya  al-lubb berada di dalam al-fuad, dan al-fuad di dalam al-qalb, dan al-qalb di dalam al-ubb. Masing-masing objek tersebut memiliki karakter dan fungsi khusus. As-Shadr berfungsi sebagai sumber dari cahaya islam (nur al-islam), yaitu sikap kedudukan yang diekspresikan dalam bentuk fisik, seperti shalat, puasa, haji, dan sebagainya Ash-Shadr adalah tempat penyimpanan ilmu yang dapat menjadikan orang mampu dan mau mengerjakan aturan syariat. Ilmu yang ada dalam ash-shadr ini dapat diproleh melalui mendengarkan berbagai nasihat. Al- Qalb, yang ada di dalam ash-shadr adalah sumber dari cahaya keimanan (nur al-iman). Cahaya keimanan ini sifatnya konstan, tidak pernah semakin terang atau sebaliknya (semakin redup). Al-Fuad ini berfungsi untuk mengetahui realitas. Cahaya yang dimiliki oleh fuad berbeda dengan yag dimiliki al-qalb cara penyuciannya harus dengan banyak mendekatkan diri kepada Tuhan dengan cara banyak melakukan amal shaleh beribadah kepadanya Nya, ber-dzikir, bertasbih, ber-tahlil, dan sebagainya Disamping itu juga harus senantiasa mengosongkan diri dari sifat- sikap.  Perkataan, dan prilakunya dari hal-hal yang kotor dan merusak hal – hal tersebut

Kesimpulan

Qalb atau hati di sini di jelaskan memiliki tingkatan dan cara menyucikan jiwa dengan sikap kedudukan yang dieskpresikan dalam bentuk fisik, seperti shalat,puasa,haji dan sebagainya ada pun aspek tingkatan dan tempat hati seperti al-lubb berada di dala al-fuad dan alfuad berada di dalam al-qalb dan al-qalb berada di dalam al-luub yang mana dari semua itu memiliki karakter dan fungsi khusus masing-masing Al-Qalb adalah sumber dari cahaya keimanan yang cahayanya ini bersifat konstan tidak pernah semakin terang atau sebaliknya.

 

Perbandingan

Dalam buku pertama dijelaskan bahwa akal itu memiliki kelemahan dan menjabarkan bagaimana mengendalikan dan menyucikan jiwa dan menjelaskan ilmu hakiki itu hanyda bisa di dapat dengan mendekatkan diri pada Allah SWT, dan di buku ke dua menjelaskan tingkatan-tingkatan hati dan cara penyuciannya

Post a Comment

0 Comments